Facebook Pixel

Yuk Kenali Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa!

Banner
| 23 Jul 2021

Yuk Kenali Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa!

Yuk Kenali Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa!

Kandungan nutrisi dalam susu dapat mendukung tumbuh kembang dan memelihara kesehatan, Namun di beberapa orang ada yang merasa mual dan kembung setelah minum susu.

Nah, apakah Anda sendiri pernah setelah minum susu merasa mual, perut kembung, badan gatal-gatal atau tidak enak badan?

Bila Anda pernah mengalami hal tersebut, mungkin bisa ada 2 kemungkinan, Anda mengalami lactose intolerance atau alergi susu. Keduanya memang terlihat memiliki dampak sama, tapi sebenarnya berbeda. Yuk kenali apa itu intoleransi laktosa dan alergi susu!

Intoleransi Laktosa

Intolerance lactose atau dikenal juga dengan intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan usus memecah gula alami yang dikenal dengan laktosa. Ketidakmampuan usus kecil memecah laktosa menjadi gula lebih sederhana, yaitu jadi glukosa dan galaktosa ini membuat laktosa berubah menjadi gas, dengan adanya gas ini menyebabkan muncul berbagai gejala masalah pencernaan seperti:

  • Diare
  • Sakit perut
  • Perut terasa kembung
  • Mual
  • Kram perut
  • Sering buang angin

Nah, yang membuat perut Anda merasa kurang nyaman setelah minum susu adalah gas ini. Namun perlu dicatat, bahwa tidak semua penderita intoleransi laktosa dapat mengalami gejala-gejala di atas karena setiap orangnya dapat mengalami gejala yang berbeda-beda, dan tingkat keparahan gejala yang disebutkan di atas tergantung pada seberapa banyak laktosa yang telah dikonsumsi.

Umumnya laktosa ini ada dalam kandungan susu hewani dan produk olahannya seperti yogurt dan keju. Beberapa gejala intoleransi laktosa atau intolerance lactose di atas ini bisa Anda rasakan antara 30 menit hingga dua jam setelah mengonsumsi susu atau makanan yang mengandung susu. Namun, yang dapat membedakan antara intoleransi laktosa dengan alergi susu biasanya adalah efek yang dapat terjadi ketika Anda selesai minum susu. Biasanya, orang yang memiliki alergi susu bisa merasakan gejala yang lebih parah dibandingkan orang dengan intoleransi laktosa.

Penyebab kondisi intoleransi laktosa ini bisa bermacam-macam. Berikut ini adalah berbagai penyebab intoleransi laktosa berdasarkan jenisnya seperti berikut ini.

Intoleransi laktosa juga ada jenis-jenisnya, seperti:

  1. Intoleransi laktosa primer
    Intoleransi laktosa jenis ini adalah paling banyak ditemukan di dunia. Setiap orang yang lahir akan menghasilkan cukup laktase untuk memecah laktosa. Namun seiring berjalannya waktu kemampuan menghasilkan laktase ini menurun, terjadinya hal ini disebabkan karena sudah lama berhenti minum susu dan gejalanya muncul setelah dewasa minum susu kembali.
  2. Intoleransi laktosa sekunder
    Terjadinya intoleransi laktosa sekunder ini disebabkan karena efek samping dari operasi pada usus, penyakit pencernaan atau karena mengonsumsi obat tertentu. Selain itu pernah mengalami muntaber, infeksi ini membuat kerusakan sementara bagi usus. Orang yang pernah mengalami muntaber akan mengalami mual, muntah hingga diare bila mengonsumsi makanan atau minuman mengandung laktosa.
  3. Intoleransi laktosa keturunan
    Untuk intoleransi laktosa keturunan ini penyebabnya karena tubuhnya memang dari lahir tidak bisa membuat enzim laktase. Kelainan genetik ini bisa terjadi karena keturunan dari kedua orangtuanya. 
  4. Intoleransi laktosa dalam masa perkembangan
    Intoleransi laktosa jenis ini terjadi karena belum sempurnanya perkembangan usus bayi saat dilahirkan. Kondisi ini biasa terjadi pada bayi dengan kelahiran prematur. Akan tetapi, intoleransi laktosa jenis ini hanya berlangsung sementara dan membaik seiring bertambahnya usia bayi.

Alergi Susu

Lalu, bagaimana dengan alergi susu? Apa sama saja dengan intoleransi laktosa? Alergi susu secara sederhana adalah respon yang tidak normal dari sistem kekebalan tubuh terhadap susu atau produk berbahan susu. Kebanyakan alergi susu ditemukan pada anak-anak, namun tidak menutup kepada orang dewasa atau remaja juga bisa alergi susu. 

Untuk kasus alergi susu pada dewasa atau remaja biasanya persentasenya lebih kecil. Seperti yang ditinjau oleh dr. Marianti dari Alodokter, alergi susu disebabkan adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang menganggap kandungan protein susu sebagai zat yang berbahaya bagi tubuh. Akibatnya sistem kekebalan tubuh terpicu untuk membuat antibodi imunoglobulin E untuk menetralkan alergen. Proses ini membuat pelepasan zat kimia tubuh seperti histamin yang kemudian membuat munculnya gejala-gejala alergi susu.

Karenanya alergi susu banyak ditemukan pada anak-anak, di mana sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang, lambat laun seiring dengan diberikan susu secara berkala, sistem kekebalan tubuhnya pun jadi bisa menerima protein dari susu.

Bagaimana Gejala Alergi Susu?

Gejala-gejala alergi susu tidak semuanya sama, gejala ini dibedakan berdasarkan waktu kemunculannya, karena setiap orang memiliki karakteristik sistem kekebalan tubuh yang berbeda-beda. Ada beberapa gejala yang langsung muncul setelah minum susu, seperti:

  • Gatal-gatal di sekitar mulut dan bibir
  • Bengkak pada bibir ataupun lidah
  • Amandel
  • Batuk
  • Sesak nafas

Ada juga gejala yang muncul setelah beberapa jam setelah minum susu, seperti:

  • Muntah
  • Diare
  • Perubahan warna pada kulit
  • Dan yang terakhir gejala alergi susu bisa juga muncul di esok harinya, seperti mata berair, pilek, dan diare.

Nah, jadi Anda sudah tahu kan beda keduanya? Secara sederhana intoleransi laktosa sangat berbeda dengan alergi susu, intoleransi laktosa tidak berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh, melainkan hanya kemampuan usus memecah laktosa saja, sedangkan alergi susu adalah masalah sistem kekebalan tubuh dalam menerima protein susu. Meskipun di beberapa kasus gejala yang muncul itu sama seperti mual dan muntah, tapi bukan berarti penyebabnya sama.

Cara Mengatasi Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa

Walaupun terasa mirip, sebenarnya menangani alergi susu dengan intoleransi laktosa pun juga sedikit berbeda, lho. Di antara kedua hal ini, intoleransi laktosa lebih mudah ditangani, yaitu dengan cara memilih dan membatasi jumlah makanan dan minuman yang Anda konsumsi jika mengandung susu di dalamnya. Jika Anda alergi dengan susu, Anda bisa coba beberapa tips di bawah ini:

  1. Hindari makanan ataupun minuman yang mengandung susu sapi
    Tidak hanya menghindari makanan ataupun minuman yang mengandung susu, Anda juga harus menghindari berbagai jenis turunan susu, ya. Anda bisa mencoba es krim dan susu yang dikurangi laktosa, ataupun mengonsumsi suplemen enzim laktase ketika Anda ingin mengonsumsi produk yang mengandung susu.
    Hal tersebut berguna untuk membantu tubuh agar mencerna laktosa. Eits, untuk Anda yang memiliki alergi susu, sebaiknya Anda benar-benar menghindari semua makanan yang mengandung produk susu ya, karena sampai saat ini masih belum ada cara pasti untuk mengobati alergi makanan selain menghindari untuk mengonsumsi makanan tersebut.
  2. Cek label pada kemasan makanan dan minuman
    Beberapa makanan yang memiliki label aman juga belum tentu benar-benar terbebas dari kandungan susu ataupun turunannya, lho. Jadi Anda harus benar-benar teliti dalam memilih makanan dan minuman yang hendak Anda konsumsi dengan membaca label makanan, walaupun jika sudah dituliskan non-dairy ataupun milk-free, karena tidak semuanya bebas dari kandungan susu.
    Berikut makanan dan minuman yang mengandung susu sapi:

    • Butter
    • Mentega
    • Keju
    • Krim
    • Kasein
    • Custard
    • Lactoferrin
    • Lactose
    • Lactulose
    • Susu (segala jenis, contoh: low fat, skim)
    • Lactalbumin
    • Hydrolysate
    • Whey
    • Sour cream
    • Yoghurt

Protein susu ditemukan dalam banyak makanan bahkan yang tidak Anda sangka sekalipun. Contohnya seperti beberapa tuna kaleng, minuman berenergi, dan bahkan permen karet. jadi Anda harus lebih teliti untuk mengecek terlebih dahulu makanan yang ingin Anda konsumsi, ya.

  1. Konsumsi makanan/minuman alternatif selain susu sapi
    Jika Anda kesulitan untuk tidak mengonsumsi susu, ada beberapa alternatif makanan ataupun minuman yang bisa Anda konsumsi saat ini. Pernah mendengar susu kelapa dan susu almond? Yup, keduanya bisa Anda konsumsi sebagai pengganti susu sapi dengan rasa yang tetap nikmat. Anda bisa pilih susu almond tanpa pemanis. Nutrisi susu almond yang dibeli di toko juga biasanya mencakup sejumlah besar vitamin E, vitamin D, dan kalsium.
  2. Memasak sendiri di rumah
    Nah, ini adalah salah satu cara terbaik untuk Anda lakukan karena Anda dapat dengan bebas memilih bahan-bahan makanan yang hendak Anda konsumsi yang tentu saja tidak mengandung susu dan segala macam turunannya. Menghindari susu dengan membuat sendiri makanan ataupun minuman untuk Anda konsumsi jauh lebih meyakinkan dibandingkan membeli makanan jadi yang tentunya harus Anda cek kandungannya.
    Dengan cara ini, Anda bisa memilih bahan yang aman untuk dikonsumsi, serta Anda juga dapat menentukan menu apa yang ingin Anda coba. Menggunakan bahan makanan utuh yang dimasak sendiri akan menghindari kerancuan label makanan dan produsen makanan olahan. Anda dapat memilih makanan-makanan yang mengandung susu sapi dan menggantinya dengan bahan-bahan alternatif seperti yang sudah disebutkan di atas.
    Lalu kalau penderita intoleransi laktosa apa nutrisinya akan berkurang, karena tidak mengonsumsi susu? Karena banyak sekali kandungan nutrisi dalam susu, mulai dari vitamin, protein, dan kalsium. Karena alergi susu dan intoleransi laktosa berbeda, untuk penderita intoleransi laktosa bisa mulai dengan mengatur pola makan, mengonsumsi suplemen tambahan. Kurangi makanan yang menggunakan olahan susu, dan bila Anda ingin mengonsumsi susu bisa dengan ukuran yang tidak terlalu banyak dan waktu yang tepat.

Kapan harus ke dokter?

Bila Anda mengalami hal-hal di atas jangan langsung mendiagnosa sendiri ya, pastikan Anda ke dokter untuk melakukan pengecekan untuk mengetahui Anda menderita intoleransi laktosa atau alergi susu. Hal ini bertujuan untuk memastikan kondisi, karena gejala intoleransi laktosa memiliki kemiripan dengan gejala alergi protein susu sapi, irritable bowel syndrome (IBS), radang usus, dan penyakit celiac. Anda bisa konsultasikan dengan dokter spesialis gizi mengenai pola diet yang tepat. 

  • Diagnosis Intoleransi Laktosa
    Dokter dapat menduga pasien jika mengalami intoleransi laktosa dengan mengetahui gejala yang dialami pasien. Namun, untuk lebih memastikan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan, seperti:
  • Tes toleransi laktosa
    Dalam tes ini, Anda akan diminta untuk mengonsumsi minuman tinggi laktosa (gula). Kemudian, 2 jam setelahnya, dokter akan melakukan tes darah untuk mengukur kadar glukosa dalam darah. Jika kadar glukosa dalam darah tidak meningkat, artinya tubuhmu tidak menyerap laktosa dengan baik.
  • Tes toleransi susu
    Tes toleransi susu bertujuan untuk mengukur kadar gula darah. Sebelum tes ini dilakukan, Anda akan diminta untuk mengonsumsi segelas (500 ml) susu. Jika kadar gula darah tidak meningkat setelah mengonsumsi susu, dapat diduga Anda menderita intoleransi laktosa.

Diagnosis Intoleransi Laktosa

Dokter dapat menduga pasien mengalami intoleransi laktosa dengan mengetahui gejala yang dialami pasien. Namun, untuk lebih memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:

Tes toleransi laktosa

Dalam tes ini, pasien akan diminta untuk mengonsumsi minuman tinggi laktosa (gula). Kemudian, 2 jam setelahnya, dokter akan melakukan tes darah untuk mengukur kadar glukosa dalam darah pasien. Jika kadar glukosa dalam darah tidak meningkat, artinya tubuh pasien tidak menyerap laktosa dengan baik.

Tes toleransi susu

Tes toleransi susu bertujuan untuk mengukur kadar gula darah pasien. Sebelum tes ini dilakukan, pasien akan diminta untuk mengonsumsi segelas (500 ml) susu. Jika kadar gula darah pasien tidak meningkat setelah mengonsumsi susu, dapat diduga pasien menderita intoleransi laktosa.

Tes kadar hidrogen

Dokter akan meminta pasien untuk berpuasa beberapa jam sebelum tes, lalu pasien akan diminta untuk mengonsumsi minuman dengan kadar laktosa tinggi. Kemudian, dokter akan mengukur kadar hidrogen dalam napas pasien setiap 15 menit selama beberapa jam.

Jika kadar hidrogen dalam napas pasien tinggi, ada kemungkinan pasien mengalami intoleransi laktosa. Hal ini terjadi karena laktosa yang tidak tercerna mengalami fermentasi di dalam usus besar dan menghasilkan hidrogen melebihi jumlah normal.

Tes keasaman feses

Tes ini biasanya digunakan untuk mendiagnosis intoleransi laktosa pada bayi atau anak-anak, mengingat tes lain akan lebih sulit diterapkan ke mereka.

Tes keasaman feses dilakukan dengan mengukur kadar asam laktat di sampel feses pasien. Asam laktat ini dapat terbentuk akibat proses fermentasi laktosa yang tidak tercerna. Jadi, jika terdapat asam laktat di feses, dapat diduga pasien mengalami intoleransi laktosa.

Nah, itu dia beberapa penjelasan tentang perbedaan alergi susu dan intoleransi laktosa. Penanganannya cukup berbeda, bukan? Anda bisa berkonsultasi langsung dengan tenaga medis jika mengalami gejala seperti yang telah dibahas, ya.

Intoleransi Laktosa bisa tetap mengonsumsi susu, lho, jika Anda tau waktu kapan mengonsumsi dan takaran yang sesuai, seperti Frisian Flag Purefarm Flavour Milk 225 ml.

Artikel Terkait