Gaya Belajar Auditori pada Anak dan Strategi Belajarnya
Gaya belajar auditori merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kecenderungan seseorang menyukai kegiatan belajar yang melibatkan pendengaran, seperti mendengarkan penjelasan, berbicara, atau berdiskusi.
Namun, ini bukan berarti anak hanya dapat belajar dengan baik melalui suara. Setiap anak dapat memperoleh manfaat dari pengalaman belajar yang beragam, termasuk mendengarkan, melihat, bergerak, berbicara, dan mencoba langsung.
Apa Itu Gaya Belajar Auditori?
Gaya belajar auditori umumnya menggambarkan preferensi terhadap kegiatan yang melibatkan informasi lisan atau suara.
Misalnya, anak mungkin terlihat menikmati kegiatan mendengarkan cerita, berbincang mengenai suatu topik, menyanyikan lagu, atau mengikuti arahan yang disampaikan secara lisan.
Penelitian mengenai gaya belajar belum memberikan bukti yang memadai bahwa anak akan memperoleh hasil belajar lebih baik jika metode pengajaran selalu disesuaikan dengan kategori auditori, visual, atau kinestetik.
Karena itu, Ibu dapat memperhatikan aktivitas yang disukai anak tanpa menjadikannya sebagai label yang membatasi.
Jika anak senang mendengarkan cerita, kegiatan tersebut dapat dikombinasikan dengan melihat gambar, menggambar, bermain peran, atau mempraktikkan sesuatu sebagai cara belajar yang efektif.
Baca Juga: Mengapa Kegiatan Outdoor Bisa Jadi Cara Asyik Mendidik Anak?
Ciri-Ciri Anak dengan Gaya Belajar Auditori
Ciri-ciri anak dengan gaya belajar auditori adalah preferensi anak terhadap aktivitas yang banyak melibatkan kegiatan mendengarkan dan berbicara. Beberapa ciri gaya belajar auditori antara lain:
- Senang mendengarkan cerita. anak terlihat tertarik ketika Ibu membacakan buku atau menceritakan suatu kejadian.
- Aktif berbicara dan bertanya. Anak menikmati percakapan untuk mengeksplorasi hal-hal yang ingin diketahuinya.
- Senang bernyanyi atau bermain dengan bunyi. Lagu dan permainan kata dapat menjadi aktivitas yang menarik baginya.
- Menikmati kegiatan tanya jawab. Anak terlihat antusias ketika diajak berbicara mengenai cerita atau kegiatan yang baru dilakukan.
- Suka menceritakan kembali pengalaman. anak mungkin senang menjelaskan apa yang dilihat, dilakukan, atau didengarnya.
Pada usia 4–5 tahun, kemampuan bahasa anak memang terus berkembang. U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat bahwa sebagian besar anak usia 4 tahun sudah dapat mengucapkan kalimat dengan empat kata atau lebih serta menceritakan setidaknya satu hal yang terjadi pada hari tersebut.
Pada usia 5 tahun, sebagian besar anak sudah dapat menceritakan sebuah cerita dengan setidaknya dua kejadian dan melakukan percakapan dengan lebih dari tiga kali percakapan bolak-balik.
Kemampuan tersebut merupakan bagian dari perkembangan bahasa dan komunikasi, bukan bukti bahwa anak memiliki satu gaya belajar tertentu. Karena itu, Ibu tetap dapat mengenalkan berbagai cara belajar kepada anak.
Ide Kegiatan Belajar yang Dapat Dicoba
Ibu dapat memanfaatkan aktivitas yang melibatkan percakapan dan suara sebagai salah satu bagian dari kegiatan belajar. Kombinasikan dengan gambar, gerakan, permainan, dan pengalaman langsung agar proses belajar lebih beragam.
Berikut beberapa cara belajar anak auditori yang dapat dicoba:
1. Membaca Buku Bersama
Bacakan buku dengan intonasi yang menarik, kemudian ajak anak membicarakan ceritanya. Ibu dapat bertanya tentang tokoh, kejadian, atau apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
Pada usia 5 tahun, sebagian besar anak sudah dapat menjawab pertanyaan sederhana mengenai buku atau cerita setelah dibacakan.
2. Ajak Anak Berdiskusi
Setelah melakukan suatu kegiatan, ajak anak menceritakan kembali pengalamannya. Misalnya, tanyakan apa yang paling disukai setelah bermain atau apa yang ia lihat ketika pergi ke taman.
Berikan waktu kepada anak untuk berbicara dan dengarkan jawabannya. Ibu dapat melanjutkan percakapan dengan pertanyaan sederhana untuk mendorong anak menjelaskan pikirannya.
3. Gunakan Lagu dan Permainan Kata
Lagu dapat digunakan untuk membuat kegiatan belajar lebih bervariasi. Ibu dapat mengenalkan huruf, angka, anggota tubuh, atau rutinitas sehari-hari melalui lagu sederhana yang sesuai usia.
Permainan mencari kata berima atau menebak bunyi juga dapat menjadi aktivitas bersama yang melibatkan kemampuan mendengarkan dan berbicara.
4. Minta Anak Menceritakan Kembali
Setelah mendengarkan cerita, Ibu dapat meminta anak menjelaskan bagian yang diingatnya menggunakan kata-katanya sendiri.
Kegiatan ini tidak harus seperti tes. Gunakan pertanyaan sederhana, misalnya “Tadi siapa yang pergi ke taman?” atau “Setelah itu apa yang terjadi?”
5. Kombinasikan Suara dengan Gambar dan Gerakan
Saat mengenalkan nama hewan, misalnya, Ibu dapat menunjukkan gambarnya, menyebutkan namanya, menirukan suaranya, lalu mengajak anak meniru gerakannya.
Pendekatan seperti ini memberikan pengalaman belajar melalui lebih dari satu bentuk informasi dan tidak membatasi anak hanya pada kegiatan mendengarkan.
6. Berikan Instruksi yang Sederhana
Gunakan kalimat yang jelas ketika memberikan arahan. Jika kegiatan terdiri dari beberapa tahap, Ibu dapat menyampaikan instruksi secara bertahap agar lebih mudah diikuti.
Setelah memberikan arahan, beri waktu kepada anak untuk memproses informasi dan mencobanya sendiri.
Dukung Kemampuan Belajar Anak
Kemampuan belajar anak dipengaruhi oleh kegiatan yang dilakukan ketika belajar, kebiasaan sehari-hari, kesempatan mendapatkan stimulasi, aktivitas fisik, istirahat, dan pemenuhan nutrisi yang mendukung tumbuh kembangnya.
Beberapa hal yang dapat Ibu perhatikan antara lain:
- Berikan stimulasi yang beragam. Ajak anak membaca, berbicara, menggambar, bermain, bernyanyi, bergerak, dan mencoba kegiatan baru sesuai usianya.
- Berikan kesempatan bermain. Bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk menggunakan kemampuan bahasa, berpikir, sosial, emosional, dan fisiknya.
- Dorong anak aktif bergerak. Aktivitas fisik merupakan bagian penting dari kesehatan dan perkembangan anak.
- Pastikan waktu tidur cukup. Anak usia 3–5 tahun dianjurkan tidur sekitar 10–13 jam dalam 24 jam, termasuk tidur siang.
- Penuhi kebutuhan nutrisi. Berikan pola makan bergizi dan beragam untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi anak selama masa pertumbuhan.
Selain memberikan stimulasi dan membangun kebiasaan yang baik, Ibu dapat membantu memastikan nutrisi anak dengan memberikan susu UHT Frisian Flag Nutribrain Omega yang mengandung Omega 3 dan 6, serta dilengkapi 9 vitamin (vitamin A, D3, E, B1, B2, B3, B5, B6, B12) dan 4 mineral (kalium, fosfor, iodium, dan zink) tiga kali sehari untuk membantu melengkapi asupan nutrisi anak sehari-hari.
FAQ Seputar Gaya Belajar Auditori
Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika Ibu mengenali preferensi dan kegiatan belajar yang disukai anak.
1. Apa Perbedaan Gaya Belajar Auditori, Visual, dan Kinestetik?
Secara umum, istilah auditori digunakan untuk menggambarkan preferensi terhadap informasi yang didengar, visual terhadap informasi yang dilihat, sedangkan kinestetik dikaitkan dengan aktivitas yang melibatkan gerakan atau praktik.
Agar anak semangat belajar, Ibu dapat mengombinasikan ketiganya sesuai materi dan aktivitas. Misalnya, ketika mengenalkan buah, anak dapat mendengar namanya, melihat bentuk dan warnanya, lalu memegang atau mengelompokkan buah tersebut.
Baca Juga: Jalan-jalan: Cara Efektif Agar Anak Semangat Belajar
2. Apa Kekurangan Gaya Belajar Auditori?
Tidak tepat jika menganggap gaya belajar auditori memiliki kekurangan tertentu, karena kategori gaya belajar bukan diagnosis atau ukuran kemampuan anak.
Jika anak lebih menyukai kegiatan mendengarkan, hal tersebut juga tidak berarti ia akan kesulitan ketika belajar melalui gambar, tulisan, gerakan, atau praktik.
Justru, jika Ibu memberikan pengalaman belajar yang bervariasi dapat membantu anak menggunakan berbagai kemampuan.
Oleh karena itu, hindari memberi label seperti “anak auditori tidak bisa belajar lewat gambar”. Perhatikan kebutuhan, minat, kemampuan, serta jenis kegiatan yang sedang dipelajari.
3. Apa Saja Contoh Aktivitas untuk Anak dengan Gaya Belajar Auditori?
Jika anak menyukai kegiatan yang melibatkan suara dan percakapan, beberapa aktivitas yang dapat Ibu coba antara lain:
- Membacakan cerita dan membahas isinya bersama.
- Bernyanyi bersama.
- Bermain tebak bunyi.
- Bermain kata dan mencari kata berima.
- Meminta anak menceritakan kegiatan yang baru dilakukan.
- Bermain peran dengan percakapan sederhana.
- Memberikan pertanyaan tentang buku yang baru dibacakan.
- Mengajak anak mengikuti instruksi dalam permainan.
Kegiatan tersebut tetap dapat dikombinasikan dengan gambar, benda, gerakan, dan praktik langsung agar pengalaman belajar anak lebih beragam.
Jadi, Ibu tidak perlu membatasi anak pada satu cara belajar saja. Berikan kesempatan untuk mendengar, melihat, bergerak, berbicara, dan mencoba berbagai kegiatan sambil memenuhi kebutuhan nutrisi hariannya, Bu.
Referensi:
- Pashler, H., McDaniel, M., Rohrer, D., & Bjork, R. (2008). Learning styles: Concepts and evidence. Psychological Science in the Public Interest, 9(3), 105–119. https://doi.org/10.1111/j.1539-6053.2009.01038.x
- American Psychological Association. (2014). Learning styles: Out of fashion. https://www.apa.org/pubs/highlights/spotlight/issue-22
- Centers for Disease Control and Prevention. (2026, May 15). Milestones by 4 years. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/4-years.html
- Centers for Disease Control and Prevention. (2026, May 15). Milestones by 5 years. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/5-years.html
- Yogman, M., Garner, A., Hutchinson, J., Hirsh-Pasek, K., & Golinkoff, R. M. (2018). The power of play: A pediatric role in enhancing development in young children. Pediatrics, 142(3), e20182058. https://doi.org/10.1542/peds.2018-2058
- Paruthi, S., Brooks, L. J., D'Ambrosio, C., Hall, W. A., Kotagal, S., Lloyd, R. M., et al. (2016). Recommended amount of sleep for pediatric populations: A consensus recommendation of the American Academy of Sleep Medicine. Journal of Clinical Sleep Medicine, 12(6), 785–786. https://doi.org/10.5664/jcsm.5866