Kecerdasan Naturalis Anak: Ciri dan Cara Mengembangkannya
Pernah melihat anak-anak mengamati serangga, senang bermain di taman, atau penasaran dengan berbagai jenis tanaman?
Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kecerdasan naturalis, salah satu jenis kecerdasan dalam teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) yang dikembangkan oleh Howard Gardner.
Apa Itu Kecerdasan Naturalis?
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, dan memahami berbagai unsur yang terdapat di alam, termasuk tumbuhan, hewan, serta karakteristik lingkungan.
Naturalist intelligence termasuk dalam teori Multiple Intelligences Howard Gardner masuk dalam macam-macam kecerdasan anak bersama kecerdasan linguistik, logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal.
Pada anak, kecerdasan naturalis dapat terlihat melalui ketertarikan terhadap lingkungan sekitar, misalnya senang mengamati tanaman atau hewan dan memperhatikan perbedaan karakteristik benda-benda di alam.
Meski demikian, kecerdasan naturalis sebaiknya dipahami sebagai salah satu kerangka untuk melihat keberagaman kemampuan anak, bukan sebagai diagnosis atau label yang menentukan kecerdasan si Kecil secara keseluruhan.
Ciri-ciri Kecerdasan Naturalis pada Anak
Ciri-ciri kecerdasan naturalis bisa muncul melalui aktivitas sehari-hari, seperti lebih tertarik bermain di luar, mengamati makhluk hidup, dan lain-lain. Ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Suka pada Alam
Anak dengan ketertarikan naturalis biasanya menikmati kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan alam, misalnya bermain di taman, melihat tanaman, mengamati hewan, atau mengeksplorasi pasir dan air.
IDAI menyebutkan bahwa pada usia 3-6 tahun, anak mulai menyukai permainan di alam seiring berkembangnya kemampuan motorik kasar.
Ibu dapat memanfaatkan ketertarikan tersebut dengan mengajak si Kecil melakukan aktivitas sederhana, seperti menyiram tanaman, mengamati daun yang jatuh, atau memperhatikan hewan yang aman dari jarak dekat.
2. Peka dengan Perbedaan Alam
Anak-anak mungkin mudah menyadari bahwa daun memiliki bentuk berbeda, bunga mempunyai warna yang beragam, atau hewan memiliki ciri yang tidak sama.
Kemampuan memperhatikan dan membedakan unsur-unsur alam ini berkaitan dengan konsep kecerdasan naturalis dalam teori kecerdasan majemuk.
Untuk menstimulasinya, ajak anak membandingkan dua atau lebih benda yang ditemui. Misalnya, tanyakan apa perbedaan bentuk, ukuran, warna, atau tekstur beberapa daun yang ditemukan saat bermain di taman.
3. Pandai Mengelompokkan Sesuatu
Ketertarikan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan objek berdasarkan karakteristiknya juga berkaitan dengan kecerdasan naturalis.
Anak, misalnya, mungkin saja tertarik untuk memisahkan daun berdasarkan warna atau mengelompokkan batu berdasarkan ukuran dan bentuknya.
Aktivitas seperti ini bisa dibuat menjadi permainan sederhana. Berikan beberapa benda yang aman untuk anak, lalu minta si Kecil mengelompokkannya berdasarkan karakteristik tertentu sambil menjelaskan alasan pilihannya.
4. Senang Mengamati Lingkungan dengan Berbagai Indra
Eksplorasi alam memberikan banyak kesempatan bagi anak untuk melihat warna dan bentuk, menyentuh berbagai tekstur, mendengar suara lingkungan, hingga mencium aroma dari unsur alam yang aman.
Aktivitas berbasis alam yang melibatkan permainan dan eksplorasi juga banyak digunakan dalam pendidikan bagi minat anak usia dini.
Saat berada di taman, Ibu dapat mengajak si Kecil mendengarkan suara burung, merasakan tekstur daun, atau membandingkan aroma beberapa bunga yang aman. Tetap dampingi anak agar eksplorasi berlangsung aman.
Baca Juga: Tepatkah Jika Anak Minum Susu untuk Menambah Berat Badan Waktu Balita?
Cara Mengembangkan Kecerdasan Naturalis pada Anak
Kecerdasan naturalis dapat distimulasi melalui kegiatan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal, mengamati, membandingkan, dan berinteraksi langsung dengan alam.
Sebuah systematic review mengenai pendidikan lingkungan anak usia dini menemukan, pendekatan berbasis permainan dan lingkungan kaya unsur alam berkaitan dengan literasi lingkungan serta perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak.
Cara mengembangkan kecerdasan naturalis dapat dilakukan lewat beberapa aktivitas sederhana bersama si Kecil di lingkungan sekitar rumah, antara lain:
- Ajak bermain di ruang terbuka: Taman atau halaman rumah dapat menjadi tempat anak mengamati tanaman, tanah, batu, dan hewan yang ditemuinya.
- Rawat tanaman bersama: Ajak si Kecil menanam biji, menyiram tanaman, lalu mengamati perubahan yang terjadi dari hari ke hari.
- Bermain mengelompokkan benda alam: Kumpulkan daun atau batu yang aman, kemudian kelompokkan berdasarkan warna, ukuran, bentuk, atau teksturnya.
- Lakukan pengamatan sederhana: Ajak anak memperhatikan perubahan cuaca, bentuk awan, pertumbuhan tanaman, atau hewan yang ada di lingkungan sekitar.
- Gunakan pertanyaan terbuka: Daripada langsung memberikan jawaban, coba tanyakan, misalnya, “Menurut kamu, apa bedanya dua daun ini?” atau “Kenapa tanah ini terasa lebih basah?”
- Kenalkan kebiasaan menjaga lingkungan: Anak dapat mulai dilibatkan dalam aktivitas sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan merawat tanaman.
Kegiatan outdoor di ruang terbuka tidak harus dilakukan jauh dari rumah. Pendidikan berbasis alam juga berhubungan dengan sejumlah aspek, seperti kesadaran terhadap alam, interaksi bermain, kemampuan sosial, serta regulasi diri.
FAQ Seputar Kecerdasan Naturalis
Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika membahas kecerdasan naturalis pada anak, simak tanya-jawab berikut:
1. Apakah Kecerdasan Naturalis Bisa Dilatih?
Ya, kemampuan kecerdasan naturalis dapat terus distimulasi dengan memberikan anak kesempatan mengamati dan mengeksplorasi lingkungan. Kegiatan bermain di alam bebas dapat adalah cara untuk memberikan pengalaman tersebut.
Tidak perlu aktivitas yang rumit. Mengamati serangga, menanam sayuran dalam pot, mengelompokkan daun, atau berbicara tentang perubahan cuaca sudah dapat menjadi kesempatan bagi si Kecil untuk mengeksplorasi alam.
2. Kapan Kecerdasan Naturalis Mulai Dikembangkan?
Stimulasi dapat diberikan sejak usia dini dan disesuaikan dengan tahap perkembangan serta kemampuan anak. Pada usia 3-6 tahun, anak mulai memiliki kemampuan berbahasa lebih baik, banyak bertanya, serta menyukai aktivitas di alam.
Karena itu, sebagai orang tua, Ibu dapat memanfaatkan rasa ingin tahu tersebut untuk mengenalkan tanaman, hewan, cuaca, serta lingkungan melalui kegiatan bermain.
Baca Juga: Montessori, Metode Belajar Anak Agar Mandiri dan Kreatif
Mengembangkan potensi si Kecil tidak hanya dilakukan melalui stimulasi. Anak juga membutuhkan pola makan bergizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
Salah satu zat gizi penting adalah zat besi. WHO menyebut zat besi sebagai nutrisi esensial untuk perkembangan dan pertumbuhan sel pada sistem saraf. Kekurangan zat besi dikaitkan dengan gangguan perkembangan kognitif dan performa belajar.
Sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang, Ibu dapat melengkapi kebutuhan nutrisi si Kecil sesuai usia dan kebutuhannya. Frisian Flag PRIMAGRO 3+ diformulasikan untuk anak usia 3-6 tahun dan mengandung protein, DHA 17 mg per sajian, Omega 3 (ALA), Omega 6 (LA), zat besi, kalsium, vitamin, dan mineral sebagai tambahan nutrisi untuk mendukung masa pertumbuhan si Kecil.
Jadi, imbangi stimulasi yang menyenangkan dengan asupan nutrisi yang sesuai kebutuhan si Kecil. Yuk, lengkapi nutrisi si Kecil dengan Frisian Flag PRIMAGRO 3+ untuk menemani periode emas pertumbuhannya!
Referensi:
- Medise, B. E. (2017, April 27). Pemilihan mainan anak sesuai fase perkembangan. Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/cerdas-memilih-mainan-anak
- Project Zero. (n.d.). Multiple intelligences. Harvard Graduate School of Education. https://pz.harvard.edu/projects/multiple-intelligences
- Johnstone, A., Martin, A., Cordovil, R., Fjørtoft, I., Iivonen, S., Jidovtseff, B., Lopes, F., Reilly, J. J., Thomson, H., Wells, V., & McCrorie, P. (2022). Nature-based early childhood education and children’s social, emotional and cognitive development: A mixed-methods systematic review. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(10), 5967. https://doi.org/10.3390/ijerph19105967
- World Health Organization. (2023, August 9). Daily iron supplementation in children 24–59 months of age. https://www.who.int/tools/elena/interventions/iron-children-24to59