Anak Kekurangan Zat Besi? Ini Cara Mengatasinya
Zat besi memiliki peran penting selama pertumbuhan anak. Nutrisi ini berperan dalam pembentukan hemoglobin, yaitu bagian dari sel darah merah yang membantu membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Anak kekurangan zat besi dapat terlihat pucat, lemas, bahkan sulit untuk berkonsentrasi. Simak penjelasan selengkapmya mengenai penyebab, ciri-ciri, hingga cara meningkatkan zat besi pada anak.
Apa Penyebab Anak Kekurangan Zat Besi?
Kekurangan zat besi dapat terjadi ketika kebutuhan zat besi tubuh lebih besar dibandingkan jumlah yang tersedia. Pada anak, hal tersebut dapat berkaitan dengan asupan makanan, peningkatan kebutuhan selama pertumbuhan, hingga kondisi kesehatan tertentu.
1. Asupan Makanan yang Kurang Mengandung Zat Besi
Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG), anak usia 1-3 tahun membutuhkan 7 mg zat besi per hari, sedangkan anak usia 4-6 tahun dan 7-9 tahun membutuhkan 10 mg per hari.
Jika makanan sehari-harinya kurang mengandung zat besi, risiko kekurangan zat besi dapat meningkat.
IDAI juga mencatat bahwa pada anak usia 2-5 tahun, salah satu faktor risiko anemia defisiensi besi adalah asupan besi yang kurang, termasuk pola makan yang kurang mengandung sumber zat besi heme (sumber zat besi dari hewan).
2. Kebutuhan Zat Besi yang Meningkat Selama Pertumbuhan
Masa kanak-kanak merupakan periode pertumbuhan yang pesat sehingga tubuh membutuhkan pasokan zat besi secara konsisten.
Anak yang sedang mengalami periode pertumbuhan cepat memiliki kebutuhan zat besi yang perlu dipenuhi melalui pola makan sehari-hari.
3. Kondisi Tertentu yang Memengaruhi Penyerapan Zat Besi
Gangguan saluran pencernaan, seperti penyakit celiac dan penyakit radang usus, dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh. Selain itu, perdarahan yang berlangsung dalam waktu lama atau kondisi kesehatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi pada anak.
Karena penyebabnya beragam, anak yang diduga mengalami kekurangan zat besi perlu mendapatkan evaluasi untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang sesuai.
Apa Saja Ciri Anak Kekurangan Zat Besi?
Pada tahap awal, kekurangan zat besi pada anak sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Gejala biasanya lebih terlihat ketika kekurangan zat besi sudah menyebabkan anemia.
Karena itu, kenali tanda-tandanya dan konsultasikan dengan dokter untuk memastikan kondisi si Kecil.
1. Anak Mudah Lelah dan Lemah
Anak yang mengalami anemia defisiensi zat besi biasanya akan tampak lesu, mudah lelah, dan kehabisan energi saat beraktivitas. Hal ini terjadi karena berkurangnya kadar hemoglobin dalam darah, sehingga pasokan oksigen ke seluruh jaringan tubuh menjadi tidak optimal.
2. Kulit, Bibir, dan Kuku Tampak Pucat
Salah satu tanda khas anemia defisiensi besi adalah warna kulit yang terlihat memudar atau pucat. Selain pada kulit, warna pucat ini umumnya tampak sangat jelas pada area bibir, gusi, bagian dalam kelopak mata bawah, hingga dasar kuku anak.
3. Sulit Berkonsentrasi dan Kurang Bersemangat
Zat besi memiliki peran vital dalam mendukung fungsi dan perkembangan kognitif otak. Anak yang kekurangan zat besi cenderung mengalami penurunan fokus, sulit memberikan perhatian, tampak tidak bersemangat, hingga menunjukkan perubahan perilaku saat belajar maupun bermain.
4. Nafsu Makan Menurun
Penurunan nafsu makan juga sering ditemui pada anak yang mengalami kekurangan zat besi. Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko menurunkan imunitas atau daya tahan tubuh anak, sehingga ia jadi lebih rentan terserang penyakit.
Meski begitu, nafsu makan anak dipengaruhi oleh banyak faktor lain, sehingga indikator ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa penilaian medis pendukung.
Apa yang Terjadi Saat Anak Kekurangan Zat Besi?
Zat besi diperlukan tubuh untuk menghasilkan hemoglobin. Jika tubuh tidak memiliki zat besi yang cukup, produksi hemoglobin dapat terganggu sehingga kemampuan sel darah merah membawa oksigen ke jaringan tubuh juga dapat terpengaruh.
Namun, kekurangan zat besi tidak selalu langsung berarti anak mengalami anemia. Kekurangan zat besi dapat berkembang secara bertahap, mulai dari berkurangnya cadangan besi hingga akhirnya terjadi anemia defisiensi besi.
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Karena gejala awal kekurangan zat besi bisa tidak terlihat jelas, diagnosis sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan ciri fisik.
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan, termasuk pemeriksaan darah bila diperlukan, dapat membantu menentukan kondisi anak dengan tepat.
Baca Juga: 7 Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh dan Sumber Makanannya
Bagaimana Cara Meningkatkan Zat Besi pada Anak?
Salah satu cara utama mencegah dan mengatasi kekurangan zat besi pada anak adalah memastikan menu harian menyediakan asupan nutrisi yang cukup. Selain itu, berikut beberapa cara yang bisa ibu lakukan untuk meningkatkan zat besi pada anak.
1. Berikan Makanan Sumber Zat Besi
Zat besi bisa diperoleh dari berbagai makanan, seperti daging merah, ayam, ikan, telur, kacang-kacangan, dan sayuran hijau. Zat besi dari makanan hewani, terutama daging dan ikan, umumnya lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan dari makanan nabati.
Ibu juga dapat melengkapi asupan harian anak dengan Frisian Flag PRIMAGRO 3+ yang mengandung zat besi sebagai salah satu variasi dalam melengkapi asupan nutrisi anak sehari-hari.
Setiap sajian Frisian Flag PRIMAGRO 3+ mengandung 17 mg DHA serta berbagai nutrisi penting lainnya. Tersedia dalam rasa Cokelat, Madu, dan Vanila yang dapat menjadi pilihan untuk melengkapi pola makan anak sehari-hari.
2. Padukan dengan Sumber Vitamin C
Vitamin C dapat membantu tubuh menyerap zat besi dari makanan dengan lebih baik. Karena itu, Ibu dapat memadukan makanan kaya zat besi dengan makanan yang mengandung Vitamin C.
Sebagai contoh, kombinasikan lauk daging atau telur dengan buah jeruk, stroberi, olahan sayur seperti tomat dan brokoli dalam satu sesi makan, atau beri anak Frisian Flag PRIMAGRO 3+ yang juga bisa bantu penuhi kebutuhan Vitamin C dan Zat Besi.
3. Terapkan Pola Makan Beragam dan Seimbang
Ibu bisa menyediakan menu harian yang bervariasi. Kombinasikan sumber protein hewani dan nabati, karbohidrat, buah, serta sayur untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi si Kecil.
Pola makan yang beragam membantu si Kecil mendapatkan zat besi serta berbagai zat gizi penting lainnya yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
Selain memberikan makanan bergizi dan beragam, perhatikan juga kondisi kesehatan si Kecil.
Jika Ibu khawatir kebutuhan zat besinya belum terpenuhi atau menemukan tanda-tanda kekurangan zat besi, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan saran yang sesuai.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia. https://jdih.kemkes.go.id/storage/documents/pdfs/2019permenkes028.pdf
- Windiastuti, E. (2013, September 5). Anemia defisiensi besi pada bayi dan anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak
- Mayo Clinic Staff. (2025, February 21). Iron deficiency in children: Prevention tips for parents. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/iron-deficiency/art-20045634
- Mayo Clinic Staff. (2025, January 10). Iron deficiency anemia: Symptoms and causes. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034
- Setiaputri, K. A. (n.d.). Peran zat besi dan daftar sumber makanannya untuk anak. Hello Sehat. https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/gizi-anak/zat-besi-untuk-anak/