Kenali 5 Mitos Seputar Alergi Susu Agar Tidak Keliru

Banner
| 25 Mar 2022

Kenali 5 Mitos Seputar Alergi Susu Agar Tidak Keliru

Kenali 5 Mitos Seputar Alergi Susu Agar Tidak Keliru

Alergi susu merupakan suatu reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap kandungan protein yang terkandung dalam berbagai produk olahan susu. Kondisi ini umumnya ditandai dengan gatal-gatal, muntah, diare, dan lain sebagainya. 

Normalnya, sistem kekebalan tubuh dapat melindungi tubuh kita dari infeksi dan berbagai penyebab penyakit. Tapi, pada penderita alergi susu, sistem kekebalan tubuh justru menganggap protein yang terkandung dalam susu sebagai zat yang berbahaya. Nah, akibatnya tubuh melepaskan histamin dan zat kimia lain yang menyebabkan munculnya gejala alergi susu. 

Namun sayangnya, saat ini banyak sekali mitos-mitos seputar alergi susu yang menyebar di kalangan masyarakat. Bahkan, tidak sedikit pula orang yang percaya dengan mitos tersebut, padahal kan yang namanya mitos sering kali tidak sesuai dengan faktanya. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk mengetahui mitos-mitos alergi susu agar bisa mengatasi kondisi ini dengan cara yang baik dan benar. Mari kita simak faktanya di dalam aritkel ini, yuk! 

  1. Mitos: Alergi susu sapi tidak bisa sembuh

    Alergi susu sapi terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang bersikap tidak normal saat menerima kandungan protein pada susu. Umumnya penderita akan mengalami banyak gejala mulai dari gatal-gatal pada sekitaran mulut, diare, hingga sesak nafas. Namun seiring berjalannya waktu sistem kekebalan tubuh mengalami perubahan dan meningkat. Sistem imun tubuh pun menjadi lebih kuat dalam menerima protein susu sehingga alergi susu pun dapat diminimalkan. Seiring dengan meningkatnya sistem kekebalan tubuh, Anda dapat mencoba konsumsi susu sapi. Namun bila terjadi reaksi alergi, Anda harus menghentikan konsumsinya dan mencoba kembali di lain waktu.

  2. Mitos: Gejala alergi susu hanya diare

    Ternyata ada juga lho mitos yang menyebutkan bahwa gejala alergi hanyalah diare. Faktanya, gejala alergi yang dialami setiap orang tidaklah sama, gejalanya tergantung dari bagian tubuh mana yang menimbulkan reaksi alergi.

    Jika kulit Anda yang cenderung sensitif, reaksi alergi bisa saja berupa gatal-gatal, muncul ruam merah, atau bahkan mengalami pembengkakan. Namun, ada juga alergi yang menyerang saluran pernapasan, sehingga menyebabkan pengidapnya pilek, batuk, hingga gejala asma. Lain hal lagi jika sistem pencernaan yang alergi, maka bisa jadi menyebabkan muntah dan diare. Perbedaan gejala dan reaksi ini berlaku pada anak-anak hingga orang dewasa.

    Baca juga: 8 Rahasia Manfaat Susu Bagi Kesehatan Tubuh

  3. Mitos: Alergi susu sapi bukan penyakit keturunan orang tua

    Beberapa mungkin menganggap bahwa alergi susu sapi bukanlah keturunan dari orangtua, namun fakta berkata lain. Seperti di situs resmi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), Dr. Badriul Hegar, PhD, SpA(K)., Divisi Gastroenterologi FKUI-RSCM, mengatakan bahwa 40% bayi yang memiliki ibu penderita alergi susu sapi, maka kemungkinan juga akan memiliki alergi susu sapi yang sama di masa yang akan datang.

  4. Mitos: Alergi susu sapi tidak berbahaya

    Alergi susu yang muncul terbagi dalam kurun waktu, yakni jangka pendek dan panjang. Secara jangka pendek masih tahap gatal-gatal pada kulit dan bagian sekitar mulut. Untuk jangka panjangnya bisa terkena sesak nafas dan gangguan saluran cerna seperti diare. Bila terkena alergi susu segera sigap untuk berkonsultasi ke dokter.

  5. Mitos: Alergi susu hanya dialami anak usia 1 tahun ke atas

    Sederhananya alergi susu sapi terjadi karena adanya protein asing dari susu yang masuk ke dalam tubuh bayi. Karena sistem imunnya belum baik, ditambah sistem saluran pencernaannya maka bayi usia di bawah 1 tahun bisa muncul alergi susu. Makanya bayi di awal bulan diberikan susu akan mengalami diare atau muntah, karena sistem pencernaan dan imunnya yang belum baik menerima protein dari susu.

  6. Mitos: Alergi susu sama dengan intoleransi laktosa 

    Baik alergi susu sapi dan lactose intolerance atau intoleransi laktosa memiliki kemiripan yang sama dalam gejalanya, yakni mengalami diare setelah mengkonsumsi susu sapi. Tapi sebenarnya keduanya adalah hal yang berbeda, seperti dilansir dari kompas.com, Prof. Dr. dr. Hananto W. Dipohadiningrat, Sp.A(k), mengatakan bahwa alergi susu sapi adalah protein dari sapi, sedangkan intoleransi laktosa adalah masalah dari enzim laktase.

Sekarang Anda jadi tahu kan fakta sebenarnya dari mitos-mitos mengenai alergi susu yang sering Anda dengar? Sebagai langkah pencegahan alergi, sebenarnya ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

  • Untuk mengatasi dan mencegah alergi, pastikan untuk membaca label produk kemasan sebelum membeli makanan dan minuman dari olahan susu
  • Bawa makanan dan minuman yang diolah sendiri di rumah agar lebih aman dikonsumsi
  • Jika membeli makanan di luar, beri tahu penjual atau chef agar tidak menambahkan produk yang mengandung susu
  • Hindari penggunaan alat masak atau alat makan yang sama dengan orang lain
  • Beri tahu keluarga atau teman jika Anda memiliki alergi susu sapi, sehingga mereka bisa membantu dalam hal pencegahan
  • Segera konsultasi dengan dokter spesialis untuk mengetahui secara pasti tentang kondisi Anda atau keluarga yang mengalami alergi susu. Sebaiknya Anda tidak mendiagnosis sendiri mengenai kondisi tersebut, ya!

Baca juga: Tips Menjaga Kebugaran Jasmani

Untuk Anda yang percaya kebaikan susu dan bisa mengonsumsinya tanpa ada reaksi alergi, mulai sekarang mari kita lebih banyak mencari tahu tentang manfaat susu dan mengonsumsinya secara rutin. Anda bisa mendapatkan berbagai manfaat bagi tubuh dengan cara mengonsumsi susu cair Frisian Flag Purefarm Full Cream.

Susu cair Frisian Flag Purefarm Full Cream mengandung berbagai nutrisi penting, di antaranya sumber 8 vitamin (vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, B12, dan D3) serta sumber 3 mineral (kalsium, fosfor, dan iodium). Susu cair Frisian Flag Purefarm Full Cream cocok diminum kapan saja, terutama di pagi hari untuk membantu boosting semangat sebelum memulai aktivitas sehari-hari.

Artikel Terkait