Pola Makan Sehat Bergizi dan Seimbang untuk Balita

Banner
| 24 Sep 2026

Pola Makan Sehat Bergizi dan Seimbang untuk Balita

Pola Makan Sehat Bergizi dan Seimbang untuk Balita

Pola makan sehat bergizi dan seimbang penting untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak selama masa pertumbuhan.

Memasuki usia 1-3 tahun, anak mulai mengonsumsi makanan keluarga sehingga Ibu perlu memperhatikan jenis, jumlah, hingga jadwal makan yang sesuai dengan usianya.

Berikan makanan yang beragam, mulai dari makanan pokok, lauk hewani dan nabati, sayur, buah, hingga sumber nutrisi lainnya sebagai bagian dari menu sehari-hari, Bu.

Komponen Gizi Seimbang untuk Balita

Gizi seimbang berarti makanan sehari-hari mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Untuk balita, variasi makanan menjadi penting karena setiap kelompok makanan menyediakan zat gizi yang berbeda. Berikut beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam menyusun pola makan anak:

1. Makanan Pokok

Makanan pokok merupakan sumber karbohidrat yang menyediakan energi untuk beraktivitas. Pilihannya tidak harus selalu nasi. Ibu dapat memberikan kentang, jagung, ubi, singkong, roti, atau sumber karbohidrat lainnya secara bergantian.

2. Protein Hewani dan Nabati

Protein dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan. Sumber protein hewani yang dapat diberikan antara lain telur, ikan, ayam, daging, dan produk susu.

Sementara itu, tahu, tempe, serta kacang-kacangan dapat menjadi sumber protein nabati. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menganjurkan pemberian makanan padat zat gizi pada anak, termasuk sumber pangan hewani seperti daging, unggas, ikan, telur, dan produk susu.

3. Sayur dan Buah

Sayur dan buah menyediakan berbagai vitamin, mineral, serta serat. Ibu dapat memberikan jenis dan warna yang berbeda agar makanan anak semakin bervariasi.

Tidak perlu bergantung pada satu jenis buah atau sayuran tertentu. Variasikan sesuai ketersediaan dan sesuaikan bentuk serta teksturnya dengan kemampuan makan anak.

4. Lemak

Lemak merupakan salah satu sumber energi dalam pola makan. Sumbernya dapat berasal dari makanan seperti ikan, telur, alpukat, kacang-kacangan, maupun minyak yang digunakan dalam pengolahan makanan.

Pada balita, kebutuhan makanan berbeda dengan orang dewasa. Ibu tidak perlu menerapkan pola makan rendah lemak untuk orang dewasa kepada anak tanpa anjuran tenaga kesehatan.

5. Vitamin dan Mineral

Balita membutuhkan berbagai vitamin dan mineral sebagai bagian dari pola makan bergizi. Zat gizi mikro tersebut dapat diperoleh dengan memberikan beragam makanan, termasuk lauk, sayur, buah, serta susu dan produk olahannya.

Contohnya, zat besi dapat diperoleh dari daging dan beberapa sumber pangan lainnya, sedangkan kalsium terdapat pada susu dan produk olahannya serta beberapa jenis makanan lainnya.

6. Air

Air juga menjadi bagian penting dari kebutuhan sehari-hari. Berikan air putih sebagai minuman utama selain ASI atau susu yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Kebutuhan cairan anak tidak sebaiknya disamakan begitu saja dengan anjuran 2 liter atau 8 gelas untuk orang dewasa.

Jumlah yang dibutuhkan dapat dipengaruhi usia, makanan yang dikonsumsi, aktivitas, cuaca, dan kondisi kesehatan.

Baca Juga: Panduan Lengkap Berat Badan Ideal Anak Usia 2 Tahun

Bagaimana Cara Mengatur Pola Makan Sehat Bergizi untuk Balita?

Selain memilih jenis makanan, Ibu perlu memperhatikan frekuensi, porsi, variasi, dan cara memberikan makanan kepada anak. Berikut beberapa hal yang dapat diterapkan:

1. Berikan Makanan yang Beragam

Kombinasikan makanan pokok dengan lauk hewani dan nabati, sayur, buah, serta sumber lemak dalam menu sehari-hari. Variasi membantu anak memperoleh berbagai zat gizi dari sumber makanan yang berbeda.

Memasuki usia 12 bulan, sebagian besar anak sudah dapat mengonsumsi jenis makanan yang sama dengan anggota keluarga lainnya. Namun, bentuk dan teksturnya tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan makan anak.

2. Atur Jadwal Makan secara Teratur

Berdasarkan anjuran pemberian makan pada anak yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, anak usia 12 - 23 bulan sudah bisa mengonsumsi makanan dengan konsistensi atau tekstur yang sama dengan yang dikonsumsi ibu atau keluarga. Sehingga tidak perlu lagi makan bubur dengan tekstur yang halus. 

Kementerian Kesehatan juga menganjurkan pemberian makanan utama sebanyak 3-4 kali sehari dan 1-2 kali makanan selingan setiap hari. Jadwal yang teratur membantu membentuk rutinitas makan.

Akan tetapi, Ibu tetap perlu memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak serta tidak memaksanya menghabiskan makanan.

3. Sesuaikan Porsi dengan Usia Anak

Porsi balita tentu tidak sama dengan porsi orang dewasa. Untuk usia 12-23 bulan, Kementerian Kesehatan memberikan panduan sekitar ¾ hingga 1 mangkuk berukuran 250ml setiap kali makan.

Jumlah yang benar-benar dimakan dapat berbeda karena nafsu makan anak dapat berubah. Hindari memaksa anak makan ketika sudah menunjukkan tanda kenyang.

4. Terapkan Cara Memberi Makan yang Responsif

Perhatikan tanda lapar dan kenyang anak. Dampingi anak ketika makan, berikan dorongan dengan sabar, tetapi hindari memaksa atau menggunakan makanan sebagai hadiah.

WHO menyebut pendekatan ini sebagai pemberian makan yang responsif. Anak dibantu dan didorong untuk makan dengan memperhatikan tanda lapar dan kenyangnya.

5. Perhatikan Tekstur dan Keamanan Makanan

Pada usia 12 bulan, sebagian besar anak sudah dapat mulai mengonsumsi makanan keluarga. Makanan dapat dipotong atau disesuaikan ukurannya agar lebih mudah dan aman dimakan.

Pastikan makanan disiapkan secara higienis dan hindari bentuk makanan yang dapat meningkatkan risiko tersedak. Selain itu, selalu dampingi anak selama makan, ya, Bu.

6. Batasi Makanan dan Minuman Tinggi Gula

Jangan membiasakan anak mengonsumsi makanan dan minuman manis sebagai pengganti makanan bergizi. Pilih makanan yang padat zat gizi dan berikan buah utuh sebagai salah satu pilihan makanan sehari-hari.

Membentuk kebiasaan makan sehat sejak kecil juga membantu anak terbiasa menikmati beragam makanan.

7. Lengkapi dengan Nutrisi Sesuai Usianya

Makanan utama tetap menjadi bagian penting dalam pola makan balita. Untuk membantu melengkapi asupan nutrisi anak usia 1-3 tahun, Ibu juga dapat memberikan Frisian Flag PRIMAGRO 1+ sebagai bagian dari pola makan bergizi dan beragam.

Frisian Flag PRIMAGRO 1+ merupakan susu pertumbuhan untuk anak usia 1-3 tahun yang merupakan sumber protein serta dilengkapi 14 multivitamin dan 11 mineral.

Frisian Flag PRIMAGRO 1+ juga mengandung Omega 3 (ALA), Omega 6 (LA), DHA, zat besi, seng, kalsium, dan vitamin D3 untuk membantu melengkapi asupan nutrisi anak.

Baca Juga: Batas Konsumsi Gula per Hari untuk Anak Usia 4-6 Tahun

FAQ Seputar Pola Makan Sehat Bergizi dan Seimbang untuk Balita

Bu, pahami beberapa informasi terkait pola makan sehat bergizi dan seimbang untuk balita dalam bagian tanya-jawab berikut:

1. Kenapa Anak Butuh Makanan Sehat dan Bergizi?

Anak membutuhkan energi dan berbagai zat gizi untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta aktivitas sehari-hari. Kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi hanya dari satu jenis makanan.

Bu, anak perlu mendapatkan makanan yang cukup dan beragam, termasuk sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Pada masa balita, pemberian makanan yang sesuai usia juga penting karena anak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.

2. Apa Saja Contoh Menu Gizi Seimbang untuk Anak Balita?

Menu gizi seimbang dapat menggunakan makanan sehari-hari yang mudah ditemukan. Misalnya, nasi + telur dadar + tumis wortel dan buncis + pepaya atau kentang + ikan + sayur bayam + pisang.

Ibu juga dapat mengganti sumber makanannya dari hari ke hari, misalnya nasi dengan ubi atau kentang, telur dengan ikan atau ayam, serta menggunakan buah dan sayur yang berbeda.

Variasi membantu anak memperoleh beragam zat gizi sekaligus mengenal lebih banyak jenis makanan.

3. Bagaimana Menu Seimbang agar Anak Dapat Tumbuh Kembang dengan Baik?

Tidak ada satu menu khusus yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak. Prinsip yang lebih penting adalah memberikan makanan cukup, beragam, padat zat gizi, aman, dan sesuai usia secara rutin.

Dalam satu hari, variasikan makanan pokok, sumber protein hewani dan nabati, sayur, buah, serta sumber lemak.

Untuk anak yang masih mendapatkan ASI, WHO merekomendasikan pemberian ASI dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih bersama makanan pendamping yang sesuai.

Selain memperhatikan makanan, pantau pertumbuhan anak secara berkala. Kementerian Kesehatan menyebut kenaikan berat dan tinggi badan sesuai garis pertumbuhan sebagai bagian dari tanda pertumbuhan balita yang sehat.

 

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Isi Piringku, panduan kebutuhan gizi seimbang harian. https://ayosehat.kemkes.go.id/isi-piringku-kebutuhan-gizi-harian-seimbang
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Balita sehat. https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/balita
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Tabel pemberian makan pada bayi dan anak. https://ayosehat.kemkes.go.id/pub/files/d8a32723535961f3f2a6e44f0f8ba915.pdf
  4. World Health Organization. (n.d.). Child health and development. https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/child-health-and-development
  5. World Health Organization. (n.d.). Complementary feeding. https://www.who.int/health-topics/complementary-feeding
Share
URL copied!

Artikel Terkait