Kinestetik Adalah Gaya Belajar dengan Gerak, Kenali Cirinya
Anak dapat mempelajari sesuatu melalui berbagai cara. Ada kalanya anak lebih tertarik ketika Ibu mengajaknya menyentuh benda, bergerak, mencoba, atau mempraktikkan langsung hal yang sedang dipelajari.
Aktivitas yang melibatkan gerakan sekaligus proses berpikir dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung proses belajar anak.
Ibu tidak perlu membatasi anak hanya pada satu cara belajar karena anak dapat memperoleh manfaat dari berbagai bentuk pengalaman belajar.
Apa Itu Kinestetik?
Kinestetik adalah istilah yang berkaitan dengan gerakan tubuh. Dalam kegiatan belajar, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang melibatkan gerakan, sentuhan, penggunaan benda, serta praktik secara langsung.
Misalnya, mengajari anak menyusun balok dan memahami bentuknya. Saat belajar berhitung, Ibu juga bisa menggunakan kancing, buah, atau benda lain yang dapat disentuh dan dipindahkan.
Anak tidak perlu selalu belajar dengan satu cara tertentu. Ibu perlu mengombinasikan kegiatan bergerak dengan melihat gambar, mendengarkan penjelasan, membaca bersama, atau berdiskusi agar pengalaman belajarnya lebih beragam.
Pada anak usia 4-6 tahun, aktivitas fisik yang juga melibatkan proses berpikir dapat menjadi bagian dari stimulasi sehari-hari.
Sebuah penelitian pada anak usia 4-12 tahun menemukan bahwa aktivitas fisik yang juga mengajak anak berpikir dapat membantu melatih kemampuan mengingat, mengikuti aturan, dan mengendalikan diri.
Baca Juga: Yuk, Mengenal Gaya Belajar Auditori Pada Anak!
Apa Saja Contoh Gaya Belajar Kinestetik?
Kegiatan belajar yang melibatkan gerakan tidak harus rumit. Ibu dapat menggunakan permainan dan benda-benda sederhana di sekitar rumah agar anak bisa mencoba langsung apa yang sedang dipelajarinya.
Berikut beberapa contoh kegiatan belajar yang melibatkan gerakan, penggunaan benda, dan praktik langsung yang dapat Ibu lakukan bersama anak:
- Menghitung menggunakan benda nyata: Ajak anak menghitung balok, buah, kancing berukuran besar, atau mainannya sambil memindahkan benda satu per satu.
- Membentuk huruf dan angka: Gunakan plastisin atau bahan lain yang aman untuk membentuk huruf dan angka yang sedang dipelajari.
- Belajar melalui gerakan: Ibu dapat meminta anak melompat sesuai jumlah angka, menunjuk anggota tubuh, atau bergerak mengikuti instruksi sederhana.
- Melakukan percobaan sederhana: Ajak anak mencoba kegiatan seperti mencampur warna atau mengamati benda yang tenggelam dan mengapung dengan pendampingan Ibu.
- Bermain peran: Bermain menjadi dokter, penjual, guru, atau profesi lainnya dapat membuat anak lebih semangat belajar melalui tindakan dan interaksi.
- Menari dan mengikuti irama: Anak dapat mengikuti gerakan sesuai lagu sambil melatih koordinasi tubuh.
- Membuat kerajinan: Menggambar, melipat, menempel, atau membuat bentuk tertentu memberi kesempatan anak menggunakan tangan dan berkreasi.
Aktivitas fisik yang melibatkan proses berpikir, seperti permainan dengan aturan, koordinasi gerakan, atau kegiatan yang meminta anak mengingat dan merespons instruksi, telah diteliti berkaitan dengan kemampuan mengatur perhatian, mengingat informasi, dan mengendalikan respons.
Ciri-Ciri Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan kinestetik berkaitan dengan kemampuan menggunakan tubuh untuk melakukan berbagai aktivitas, memecahkan masalah, maupun menghasilkan sesuatu.
Beberapa ciri kecerdasan kinestetik yang dapat terlihat melalui aktivitas sehari-hari antara lain:
- Memiliki koordinasi gerak yang baik: anak dapat menggerakkan tubuhnya dengan baik saat berlari, melompat, menari, atau bermain bola.
- Terampil menggunakan tangan: anak dapat menunjukkan keterampilan ketika menyusun balok, membuat kerajinan, menggambar, atau melakukan kegiatan lain yang membutuhkan koordinasi tangan dan mata.
- Mampu mengatur gerakan tubuh: anak dapat menggerakkan tubuh sesuai kegiatan yang dilakukan, misalnya mengikuti gerakan saat menari atau bermain.
- Terampil menggunakan benda: anak dapat menggunakan dan memindahkan benda dengan baik saat bermain atau belajar, seperti menyusun balok atau bermain bola.
- Senang melakukan aktivitas fisik: anak terlihat menikmati kegiatan yang banyak bergerak, seperti olahraga, menari, bermain peran, atau permainan lainnya.
- Senang berekspresi melalui gerakan: anak dapat menggunakan gerakan tubuh untuk menunjukkan ekspresi, misalnya saat menari, bermain peran, atau menirukan gerakan orang lain.
Ciri-ciri tersebut tidak berarti anak hanya memiliki satu jenis kecerdasan atau harus belajar dengan satu cara ya, Bu. Setiap anak memiliki kemampuan dan minat yang berbeda-beda.
Karena itu, Ibu tetap dapat memberikan stimulasi yang beragam, seperti mengajak anak membaca, mendengarkan cerita, melihat gambar, berbicara, bermain, dan bergerak.
Selain memberikan stimulasi, jangan lupa perhatikan kebutuhan nutrisi anak melalui makanan yang beragam dan bergizi seimbang. Sebagai pelengkap asupan sehari-hari, Ibu dapat memberikan susu UHT Frisian Flag Nutribrain Omega yang mengandung Omega 3 dan Omega 6 untuk membantu mendukung perkembangan otak dan fungsi kognitif anak.
FAQ Seputar Kecerdasan Kinestetik
Ibu mungkin masih memiliki pertanyaan mengenai kecenderungan anak yang senang bergerak saat belajar. Simak bagian tanya-jawab berikut:
1. Apa Kelebihan Anak Kinestetik?
Anak yang senang melakukan kegiatan gerakan dan praktik dapat mengembangkan kemampuan fisiknya. Aktivitas berlari, menari, melempar, menangkap, menyusun benda, atau membuat kerajinan dapat melibatkan koordinasi dan keterampilan gerak.
Aktivitas fisik yang juga dapat memberikan tantangan berpikir bermanfaat bagi kemampuan kognitif anak.
Menurut penelitian, aktivitas seperti permainan bola, menari, serta kegiatan fisik yang melibatkan proses berpikir dapat memberikan manfaat terhadap beberapa kemampuan mengatur pikiran dan tindakan pada anak dan remaja.
Meski demikian, kemampuan setiap anak tetap berbeda. Anak yang aktif bergerak tidak otomatis lebih unggul dalam bidang tertentu. Ibu dapat mengamati minat dan kemampuan anak, kemudian memberinya kesempatan mencoba berbagai kegiatan.
Baca Juga: 15 Mainan Anak Edukatif Sesuai dengan Usia dan Tips Memilihnya
2. Apa Kekurangan Gaya Belajar Kinestetik?
Anak yang senang belajar sambil bergerak akan merasa kurang nyaman jika terus duduk dan melakukan kegiatan yang sama. Ibu dapat mengombinasikan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi dengan kesempatan bergerak.
Misalnya, ajak anak untuk memerankan tokoh dalam cerita atau menyusun kembali jalan ceritanya menggunakan mainan setelah membaca cerita bersama.
Ibu perlu ingat, tidak ada satu metode belajar anak yang harus digunakan untuk setiap anak. Menggabungkan gerakan, praktik, percakapan, gambar, dan kegiatan membaca dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam bagi anak.
Aktivitas fisik yang melibatkan tantangan berpikir dapat digunakan sebagai salah satu bentuk stimulasi, tetapi manfaatnya dapat berbeda berdasarkan jenis aktivitas dan cara pelaksanaannya.
Oleh karena itu, Ibu dapat memberikan berbagai kegiatan sesuai usia, kemampuan, dan minat anak.
Referensi:
- Lawson, G. V., Ugrinowitsch, C., Costa, R., & Lamas, L. (2025). Effects of different types of chronic physical activities and sports on executive functions among children and adolescents: A systematic review and meta-analysis. Journal of Sports Sciences, 43(6), 565-579. https://doi.org/10.1080/02640414.2025.2468587
- Mao, F., Huang, F., Zhao, S., & Fang, Q. (2024). Effects of cognitively engaging physical activity interventions on executive function in children and adolescents: A systematic review and meta-analysis. Frontiers in Psychology, 15, 1454447. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1454447
- Teng, G., Xia, H., Li, Q., & Chen, A. (2025). Improving executive function in children and adolescents with cognitive-engaging physical activity: A systematic review and multilevel meta-analysis. Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, 46(1), e76-e82. https://doi.org/10.1097/DBP.0000000000001330
- Wang, C., Zhang, Y., Ding, H., & Zhang, M. (2022). Play smart, be smart? Effect of cognitively engaging physical activity interventions on executive function among children 4-12 years old: A systematic review and meta-analysis. Brain Sciences, 12(6), 762. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35741648/
- Wang, Y., et al. (2023). Comparative efficacy of physical activity types on executive functions in children and adolescents: A network meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Science and Medicine in Sport. https://doi.org/10.1016/j.jsams.2023.11.006