Manfaat Bermain Balok untuk Pertumbuhan Anak
Bermain balok menjadi salah satu aktivitas sederhana yang bisa ibu lakukan bersama si anak untuk mengisi waktu luang di rumah. Dengan menyusun, menumpuk, dan membentuk balok, anak dapat bebas berkreasi sekaligus mengeksplorasi berbagai bentuk sesuai imajinasinya.
Tak hanya menyenangkan, ada berbagai manfaat bermain balok untuk anak, mulai dari melatih kemampuan motorik hingga membantu anak mengenal konsep matematika sederhana. Kenali lebih jauh yuk apa itu bermain dengan balok dan manfaatnya untuk pertumbuhan anak.
Apa Itu Bermain Balok?
Bermain balok adalah aktivitas menggunakan kepingan atau balok dengan berbagai bentuk dan ukuran untuk disusun, ditumpuk, dipindahkan, atau dibangun menjadi suatu struktur. Anak bisa bermain dengan membuat menara, rumah, jembatan, kendaraan, hingga bentuk lain berdasarkan ide dan imajinasinya.
Balok juga termasuk mainan edukatif yang materialnya bisa digunakan secara terbuka. Artinya, tidak hanya ada satu cara yang benar untuk memainkannya. Balok dapat dipindahkan, digabungkan, dan disusun kembali oleh anak dengan berbagai cara. Hal ini memberikan ruang bagi si Kecil untuk menggunakan kreativitas dan imajinasinya selama bermain.
Ibu juga dapat mendampingi permainan tanpa harus selalu menentukan apa yang perlu dibuat. Sesekali, coba tanyakan kepada si Kecil, seperti "Sedang membuat apa?" atau "Balok mana yang bisa membuat menaranya lebih tinggi?" agar aktivitas bermain semakin interaktif..
Apa Manfaat Bermain Balok Susun untuk Anak?
Bermain balok dapat melibatkan kemampuan pemecahan masalah hingga kemampuan sosial anak. Berikut berbagai manfaat bermain balok untuk anak yang perlu ibu ketahui lebih lanjut.
1. Meningkatkan Kreativitas
Balok dapat disusun menjadi berbagai bentuk sesuai ide si Kecil. Hari ini, beberapa balok mungkin berubah menjadi rumah, sementara keesokan harinya bisa menjadi jembatan atau bahkan kendaraan.
Bermain balok dapat memberikan ruang bagi si Kecil untuk mengembangkan kreativitasnya. Berbagai balok dapat dikombinasikan, disusun, dan dibentuk kembali menjadi beragam kreasi sesuai dengan ide dan imajinasi anak.
Daripada selalu memberikan contoh bentuk yang harus dibuat, sesekali biarkan anak menentukan sendiri kreasinya agar ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk menuangkan ide.
2. Mengembangkan Keterampilan Motorik Halus
Ketika mengambil, menggenggam, memosisikan, dan menyeimbangkan balok, anak menggunakan otot-otot kecil pada tangan dan jarinya. Anak juga perlu mengontrol gerakan tangan ketika mencoba meletakkan balok berukuran kecil di atas balok lainnya.
Aktivitas sederhana tersebut dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk melatih keterampilan motorik halus anak melalui permainan.
3. Mengembangkan Keterampilan Motorik Kasar
Tidak hanya motorik halus, bermain balok juga dapat melibatkan keterampilan motorik kasar, terutama ketika anak menggunakan balok berukuran besar.
Saat bermain, anak mungkin perlu membungkuk, berdiri, membawa, atau memindahkan balok untuk membangun suatu struktur. Agar tetap nyaman dan aman, pastikan ukuran serta berat balok sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
4. Melatih Koordinasi Mata dan Tangan
Coba perhatikan ketika anak ingin meletakkan satu balok tepat di atas balok lainnya. Anak perlu melihat posisi balok sekaligus mengatur gerakan tangannya agar susunannya tidak jatuh.
Aktivitas mengambil, memosisikan, dan menyeimbangkan balok tersebut melibatkan kemampuan visual dan motorik sehingga dapat membantu melatih koordinasi mata dan tangan anak.
5. Mengembangkan Kemampuan Menyelesaikan Masalah
Saat susunan balok roboh, anak memiliki kesempatan untuk mencari tahu penyebabnya dan mencoba membangunnya kembali dengan cara berbeda. Misalnya, anak dapat mencoba menggunakan dasar yang lebih lebar agar menaranya lebih stabil.
Proses mencoba, menemukan masalah, memperbaiki susunan, hingga membangunnya kembali dapat menjadi pengalaman sederhana bagi anak untuk mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah.
6. Mengenal Konsep Matematika
Konsep matematika tidak hanya dapat dikenalkan melalui angka. Bermain balok juga memberikan kesempatan bagi anak untuk mengenal konsep seperti panjang, ukuran, perbandingan, jumlah, simetri, hingga keseimbangan.
Ketika menemani anak bermain, ibu dapat ikut mengenalkan konsep tersebut melalui pertanyaan sederhana, seperti:
- "Ada berapa balok yang digunakan?"
- "Mana balok yang lebih panjang?"
- "Berapa balok lagi supaya tingginya sama?"
- "Bentuk balok ini apa?"
Dengan cara tersebut, anak dapat mulai mengenal konsep matematika sederhana melalui aktivitas bermain sehari-hari.
Baca Juga: Mengapa Kegiatan Outdoor Bisa Jadi Cara Asyik Mendidik Anak?
7. Mengasah Keterampilan Spasial
Ketika membangun menggunakan balok, anak perlu memperhatikan posisi, bentuk, ukuran, serta hubungan antara satu balok dengan balok lainnya.
Misalnya, anak dapat mencoba menentukan balok mana yang perlu diletakkan di atas, di bawah, atau di samping balok lainnya. Aktivitas ini memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan pemahaman mengenai ruang, posisi, bentuk, dan ukuran.
8. Mengenalkan Konsep Kerja Sama
Bermain balok juga dapat dilakukan bersama saudara, teman, maupun Ibu dan Ayah. Ketika membuat satu bangunan bersama, anak memiliki kesempatan untuk berbagi balok, bergiliran, menentukan tugas, hingga menyatukan ide.
Melalui aktivitas tersebut, anak dapat mulai belajar bekerja sama dan berinteraksi dengan orang lain sambil menyelesaikan bangunan yang dibuat bersama.
9. Melatih Komunikasi
Saat bermain bersama, anak dapat bercerita tentang bangunan yang dibuat, menjelaskan idenya, meminta balok tertentu, hingga berdiskusi mengenai apa yang ingin dibangun berikutnya.
Ibu juga bisa membuat permainan semakin interaktif dengan mengajukan pertanyaan terbuka seperti, "Sedang membuat apa?" atau "Setelah ini mau membuat bagian apa lagi?" Dengan begitu, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk menyampaikan ide dan berkomunikasi selama bermain.
Selain stimulasi, kebutuhan nutrisi anak juga perlu diperhatikan. Contohnya adalah zat besi, iodium dan zinc yang berperan dalam mendukung fungsi kognitif dan perkembangan anak, yang menjadi bagian penting dalam proses belajar dan berinteraksi.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut, ibu dapat memberikan susu UHT Frisian Flag Nutribrain Omega yang dilengkapi iodium, zink, serta berbagai vitamin dan mineral sebagai bagian dari asupan bergizi seimbang anak.
Jenis-Jenis Balok untuk Permainan Anak
Balok tersedia dalam berbagai bentuk, ukuran, bahan, dan cara bermain. Ibu dapat memilih jenis balok yang sesuai dengan usia, kemampuan, serta aktivitas yang ingin dilakukan anak. Beberapa jenis balok yang dapat digunakan untuk bermain antara lain:
- Balok kayu, biasanya tersedia dalam bentuk seperti kubus, persegi panjang, silinder, atau segitiga yang dapat disusun menjadi berbagai struktur.
- Balok plastik, memiliki bobot yang relatif ringan dan tersedia dalam beragam bentuk maupun ukuran.
- Balok yang dapat disambungkan, memiliki bagian tertentu yang memungkinkan satu balok dikaitkan dengan balok lainnya.
- Balok magnetik, memiliki bagian magnet yang memungkinkan setiap balok saling terhubung untuk membentuk berbagai struktur.
- Balok berukuran besar, dapat digunakan untuk membuat struktur yang lebih besar sekaligus melibatkan gerakan tubuh anak ketika memindahkannya.
Apa pun jenis yang dipilih, pastikan ukuran dan material balok sesuai dengan usia anak. Hindari mainan dengan bagian terlalu kecil untuk anak yang masih berisiko memasukkan benda ke dalam mulut dan selalu ikuti rekomendasi usia yang tercantum pada kemasan.
Baca Juga: Mainan Asik Anak Untuk Mengurangi Penggunaan Gadget
FAQ Bermain Balok
Setelah mengetahui berbagai manfaat bermain balok untuk anak, ibu mungkin masih memiliki pertanyaan seputar cara bermain hingga usia yang tepat untuk mengenalkan permainan ini. Berikut penjelasannya.
1. Langkah Bermain Balok?
Tidak ada satu cara yang wajib diikuti ketika bermain balok. Justru, permainan ini dapat memberikan ruang bagi anak untuk bereksperimen dengan berbagai bentuk dan susunan. Untuk memulainya, ibu dapat mengikuti beberapa langkah sederhana berikut:
- Siapkan balok yang sesuai dengan usia anak.
- Sediakan ruang yang cukup untuk menyusun dan membangun balok.
- Biarkan anak memilih balok dan menentukan apa yang ingin dibuat.
- Jika diperlukan, berikan contoh sederhana, seperti menyusun beberapa balok menjadi menara.
- Ajukan pertanyaan terbuka mengenai apa yang sedang dibuat anak.
- Jika susunan balok roboh, berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba membangunnya kembali dengan cara yang berbeda.
Tidak perlu terburu-buru membantu ketika susunan balok anak roboh, Bu. Kesempatan untuk membangun, merobohkan, dan mencoba kembali juga menjadi bagian dari proses anak bereksperimen dan mencari solusi selama bermain.
2. Mainan Balok untuk Usia Berapa?
Balok dapat menjadi sarana bermain mulai dari usia dini hingga anak memasuki usia sekolah. Namun, jenis, ukuran, dan tingkat kesulitan permainannya perlu disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak.
Untuk anak yang lebih kecil, pilih balok berukuran besar yang mudah digenggam dan tidak berisiko tertelan. Seiring bertambahnya usia, aktivitas dapat dibuat lebih kompleks, misalnya mengajak anak merancang bangunan, menghitung jumlah balok, mengenali bentuk, atau membuat struktur berdasarkan idenya sendiri.
Hal penting yang tidak boleh diabaikan adalah selalu periksa rekomendasi usia pada kemasan mainan dan dampingi anak saat bermain, terutama jika permainan memiliki bagian-bagian berukuran kecil.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Manfaat bermain yang perlu kita ketahui. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/25/manfaat-bermain-yang-perlu-kita-ketahui
- Wellhousen, K., & Kieff, J. (2015). Ten things children learn from block play. Young Children, 70(1). National Association for the Education of Young Children. https://www.naeyc.org/resources/pubs/yc/mar2015/ten-things-children-learn-block-play
- Hansel, R. R. (2015). The preschool block center: Learning through construction. Young Children, 70(1). National Association for the Education of Young Children. https://www.naeyc.org/resources/pubs/yc/mar2015/preschool-block-center