8 Cara Mencegah Stunting pada Anak Sejak Dini
Cara mencegah stunting perlu diperhatikan sejak masa kehamilan hingga anak menjalani masa pertumbuhan.
Stunting bukan sekadar kondisi anak bertubuh pendek, melainkan gangguan pertumbuhan yang berkaitan dengan kekurangan gizi kronis atau berulang, penyakit, serta pola pemberian makan dan pengasuhan pada awal kehidupan.
Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia sekitar 2 tahun, merupakan masa penting bagi pertumbuhan dan perkembangan.
Apa Itu Stunting?
Stunting adalah kondisi ketika tinggi badan anak menurut usianya berada di bawah standar pertumbuhan.
Menurut WHO, seorang anak dikategorikan stunting apabila tinggi badan menurut usianya berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO.
Stunting dapat terjadi akibat kekurangan gizi kronis atau berulang dan berkaitan dengan berbagai faktor, seperti kesehatan dan gizi ibu yang kurang baik, penyakit yang sering terjadi, serta praktik pemberian makan dan pengasuhan yang kurang sesuai pada awal kehidupan.
Karena penentuannya menggunakan hasil pengukuran pertumbuhan berdasarkan usia dan jenis kelamin, tubuh yang terlihat lebih pendek dibandingkan teman sebaya saja tidak cukup untuk memastikan bahwa anak mengalami stunting.
Penyebab Stunting pada Anak
Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, bukan hanya karena kurang makan. Beberapa penyebab stunting pada anak meliputi:
- Asupan gizi yang tidak mencukupi, baik dari segi jumlah maupun kualitas.
- Infeksi berulang atau penyakit kronis yang dapat mengganggu nafsu makan, penyerapan, dan penggunaan zat gizi dalam tubuh.
- Kesehatan dan status gizi ibu yang kurang baik selama kehamilan.
- Praktik pemberian ASI dan MPASI yang kurang sesuai dengan kebutuhan anak.
- Pola pengasuhan dan pemberian makan yang belum optimal.
- Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang terbatas.
- Lingkungan rumah yang kurang bersih dan aman.
- Akses terhadap pelayanan kesehatan yang terbatas.
Karena penyebabnya beragam, pencegahan stunting tidak cukup dilakukan hanya dengan memberikan satu jenis makanan atau minuman tertentu. Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak sebelum anak lahir dan dilanjutkan selama masa pertumbuhan.
Cara Mencegah Stunting Sejak Dini
Pencegahan stunting perlu dilakukan secara menyeluruh, terutama pada masa awal kehidupan anak. Berikut beberapa langkah yang perlu diperhatikan:
1. Penuhi Kebutuhan Gizi Ibu Selama Kehamilan
Pencegahan dapat dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan. Ibu hamil perlu mendapatkan makanan bergizi dan beragam untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi selama kehamilan.
Kesehatan dan status gizi ibu termasuk faktor yang berperan terhadap pertumbuhan anak. Karena itu, kebutuhan nutrisi selama kehamilan perlu menjadi bagian dari upaya mencegah masalah pertumbuhan sejak dini.
2. Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Secara Rutin
Pemeriksaan kehamilan membantu tenaga kesehatan memantau kesehatan ibu serta perkembangan janin.
Pemeriksaan juga menjadi kesempatan untuk memperoleh edukasi mengenai nutrisi, mendeteksi masalah selama kehamilan, serta mendapatkan penanganan bila diperlukan.
Ikuti jadwal pemeriksaan kehamilan sesuai anjuran tenaga kesehatan agar kondisi ibu dan janin dapat dipantau secara berkala.
Baca Juga: Tinggi Badan Anak dan Cara Mendukung Pertumbuhannya
3. Berikan ASI Eksklusif Selama 6 Bulan Pertama
WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Artinya, bayi hanya mendapatkan ASI tanpa makanan atau minuman lain, kecuali obat, vitamin, atau mineral yang memang diperlukan.
ASI menyediakan nutrisi yang dibutuhkan bayi pada awal kehidupan dan pemberiannya merupakan salah satu bagian penting dari praktik pemberian makan bayi yang optimal.
4. Berikan MPASI Bergizi Mulai Usia 6 Bulan
Sekitar usia 6 bulan, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melebihi yang dapat diberikan ASI saja. Pada usia ini, makanan pendamping ASI atau MPASI perlu mulai diberikan sambil tetap melanjutkan pemberian ASI.
MPASI perlu diberikan tepat waktu, cukup dalam energi dan zat gizi, aman dan higienis, serta disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan anak.
Protein, termasuk protein hewani, karbohidrat, lemak, sayur, dan buah dapat diberikan sebagai bagian dari menu yang beragam.
5. Lanjutkan Pemberian ASI hingga Usia 2 Tahun atau Lebih
Setelah MPASI diberikan, ASI tetap dapat dilanjutkan. WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI hingga anak berusia 2 tahun atau lebih, disertai makanan pendamping yang bergizi, aman, dan sesuai usia.
Pada periode ini, makanan anak perlu semakin bervariasi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi yang meningkat selama pertumbuhan.
6. Lengkapi Imunisasi Anak
Infeksi yang terjadi berulang dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stunting karena dapat mengganggu asupan serta penggunaan zat gizi dalam tubuh.
Oleh karena itu, pencegahan penyakit juga penting selama masa pertumbuhan. Pastikan anak memperoleh imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan dan mendapatkan pelayanan kesehatan ketika sakit.
7. Jaga Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan
Lingkungan yang bersih dan aman juga berperan dalam upaya mencegah stunting. Akses terhadap air bersih, kebersihan tangan, pengolahan makanan secara higienis, dan sanitasi yang baik membantu mengurangi paparan terhadap penyebab penyakit.
WHO memasukkan lingkungan rumah yang bersih dan aman serta akses terhadap air, kebersihan, dan sanitasi sebagai bagian penting dalam upaya mencegah masalah gizi dan pertumbuhan anak.
8. Pantau Pertumbuhan Anak Secara Rutin
Pertumbuhan si Kecil perlu dipantau secara berkala melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan standar pertumbuhan berdasarkan usia dan jenis kelamin.
Pemantauan rutin membantu orang tua dan tenaga kesehatan mengetahui pola pertumbuhan anak serta mendeteksi lebih awal jika terdapat gangguan pertumbuhan yang perlu ditindaklanjuti.
Makanan untuk Membantu Mencegah Stunting
Tidak ada satu jenis “makanan pencegah stunting” yang dapat mencegah stunting dengan sendirinya. Hal yang lebih penting adalah memastikan si Kecil mendapatkan makanan yang cukup, bergizi, beragam, aman, dan sesuai usianya.
Pada masa MPASI, WHO menekankan bahwa makanan perlu menyediakan energi, protein, serta zat gizi mikro yang mencukupi kebutuhan anak.
Ibu dapat membuat variasi menu dari sumber protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging, sumber karbohidrat, sayur, buah, serta sumber lemak.
Setelah memasuki usia 1 tahun, si Kecil dapat semakin dikenalkan dengan makanan keluarga yang bergizi dan bervariasi dengan tekstur dan porsi yang sesuai. Hindari bergantung pada satu makanan tertentu karena pertumbuhan membutuhkan berbagai zat gizi.
Untuk membantu melengkapi asupan nutrisi si Kecil usia 1–3 tahun, Ibu juga dapat memberikan Frisian Flag PRIMAGRO 1+ sebagai bagian dari pola makan bergizi dan beragam.
Frisian Flag PRIMAGRO 1+ mengandung protein, kalsium, fosfor, zat besi, seng, vitamin, dan mineral. Susu ini juga mengandung Omega 3 (ALA), Omega 6 (LA), serta DHA untuk membantu melengkapi kebutuhan nutrisi si Kecil selama masa pertumbuhan.
Apakah Minum Susu Bisa Mencegah Stunting?
Minum susu saja tidak dapat mencegah stunting. Stunting memiliki banyak faktor penyebab sehingga pencegahannya tidak dapat bergantung pada satu makanan atau minuman.
Susu dapat menjadi bagian dari pola makan anak karena menyediakan berbagai zat gizi. Namun, kecukupan nutrisi tetap perlu diperoleh dari pola makan beragam disertai praktik pemberian makan yang tepat, pencegahan infeksi, sanitasi yang baik, serta pemantauan pertumbuhan.
Untuk anak usia 1–3 tahun, susu pertumbuhan dapat diberikan sebagai pelengkap nutrisi sesuai kebutuhan, bukan pengganti makanan utama ataupun satu-satunya cara mencegah stunting.
Baca Juga: Susu Tinggi Kalsium dan Dampak Kekurangan Kalsium Bagi Tubuh
FAQ Seputar Cara Mencegah Stunting
Setelah mengenal stunting, Ibu dapat mencegahnya dengan melakukan langkah-langkah yang tepat. Informasi terkait cara mencegah stunting dalam bagian tanya-jawab berikut:
1. Stunting Bisa Dicegah Sejak Kapan?
Pencegahan stunting sebaiknya dimulai sejak sebelum anak lahir, terutama dengan memperhatikan kesehatan dan kecukupan gizi ibu selama kehamilan.
Periode sejak kehamilan hingga sekitar usia 2 tahun atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode yang sangat penting.
Setelah anak lahir, pemberian ASI, MPASI yang tepat, pencegahan infeksi, sanitasi, dan pemantauan pertumbuhan perlu diperhatikan.
2. Apa Ciri-Ciri Anak Mengalami Stunting?
Ciri utama stunting adalah tinggi atau panjang badan menurut usia yang berada di bawah standar pertumbuhan. Namun, Ibu tidak dapat menentukan stunting hanya dengan melihat anak tampak lebih pendek dibandingkan teman seusianya.
Penentuan stunting memerlukan pengukuran panjang atau tinggi badan yang akurat, kemudian hasilnya dibandingkan dengan Standar Pertumbuhan Anak WHO berdasarkan usia dan jenis kelamin.
Jika pertumbuhan si Kecil terlihat melambat atau hasil pemantauan menunjukkan adanya masalah pertumbuhan, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat dinilai lebih lanjut.
3. Apakah Anak Stunting Bisa Kembali Normal?
Pertumbuhan anak yang mengalami stunting tidak dapat dipastikan akan kembali sama seperti anak yang tidak pernah mengalami stunting.
WHO menjelaskan bahwa gangguan pertumbuhan linear akibat stunting dapat sulit dipulihkan sepenuhnya, terutama bila telah berlangsung sejak periode awal kehidupan.
Namun, anak yang mengalami gangguan pertumbuhan tetap perlu mendapatkan evaluasi dan penanganan.
Perbaikan asupan gizi, penanganan penyakit atau infeksi, pola pengasuhan yang baik, serta pemantauan pertumbuhan tetap penting untuk membantu anak mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan seoptimal mungkin.
Oleh karena itu, semakin dini masalah pertumbuhan diketahui dan penyebabnya ditangani, semakin baik kesempatan untuk mendukung pertumbuhan anak sesuai kondisi masing-masing.
Referensi:
- World Health Organization. (2015). Stunting in a nutshell. https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell
- World Health Organization. (2016). Childhood stunting: Context, causes and consequences. https://www.who.int/publications/m/item/childhood-stunting-context-causes-and-consequences-framework
- World Health Organization. (2023). WHO guideline for complementary feeding of infants and young children 6–23 months of age. https://www.who.int/publications/i/item/9789240081864
- World Health Organization. (2026). Infant and young child feeding. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infant-and-young-child-feeding
- World Health Organization. (n.d.). Child growth. https://www.who.int/health-topics/child-growth
- World Health Organization. (n.d.). Complementary feeding. https://www.who.int/health-topics/complementary-feeding
- World Health Organization. (n.d.). Malnutrition. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malnutrition