Karir | Frisian Flag Indonesia
21 Februari 2018

5 Cara Manajemen Konflik Di Kantor

Saat bekerja, Anda akan bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang budaya dan pendidikan. Wajar jika terjadi perbedaan pendapat atau ‘gesekan’. Konflik pun jadi sebuah yang diterima sebagai sesuatu yang wajar dan tak bisa dihindarkan. 


Dalam bekerja, konflik tak bisa dihindari. Konflik bisa terjadi saat brainstorming di tengah meeting internal atau saat ada benturan kepentingan lintas divisi. Konflik juga bisa terjadi antara Anda dan kolega maupun antara Anda dan atasan Anda. Tak heran, kemampuan mengelola konflik jadi salah satu hal yang akan menentukan masa depan karir Anda. 


Agar tak salah langkah dalam menyikapi konflik, simak tips mengatasi atau mengelola konflik di kantor berikut ini:

 

1.Tetap berpikir positif

Konflik memang bisa membuat suasana jadi tak nyaman karena kecurigaan atau negative thinking, berpikir positif bisa membuat suasana menjadi lebih baik. Berpikir positif bisa membantu Anda untuk melihat ‘bigger picture’ dan fokus mencari win-win solution, tidak terjebak pada perselisihan atau menang-kalah. 

 

2.Tetap profesional

Sikap sopan bisa menimbulkan rasa segan pihak-pihak yang berkonflik pada Anda. Dengan menunjukkan profesionalitas, pihak-pihak yang berkonflik akan menghormati pendirian Anda dan tak mencoba ‘membujuk’ Anda untuk berpihak. 

 

3.Sebisa mungkin bersikap netral

Salah satu elemen penting bersikap profesional adalah dengan mengambil posisi netral. Selain untuk menjaga hubungan dan ‘merangkul’ pihak-pihak yang berkonflik, Anda juga berkesempatan untuk bisa mendengar cerita dari berbagai sisi. 


4.Kendalikan emosi

Meski Anda sudah bersikap netral, tetap ada kemungkinan Anda terseret konflik. Namun jangan biarkan emosi atau pemikiran negatif mempengaruhi interaksi atau keputusan Anda. Tetaplah bersikap objektif dan jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Bila terpaksa mengambil keputusan penting dalam situasi konflik, mintalah waktu agar Anda bisa memikirkan langkah yang akan diambil dengan objektif dan rasional.

 

5.Bertindak dengan empati

Ada ungkapan “One often could not see the forest for the trees”. Memang, konflik kadang membuat pihak-pihak yang terlibat terlalu fokus pada  satu masalah yang seolah tak ada jalan keluarnya. Di sinilah empati bisa membantu Anda melihat “the forest”. Dengan empati, Anda akan mampu merasakan apa yang orang lain rasakan, memahami mengapa pihak-pihak yang berkonflik mengambil keputusan tersebut, dan memahami apa dampaknya bagi mereka. Anda jadi bisa melihat ‘gambar besar’ dari konflik. Langkah berikutnya, tularkan empati Anda, ajak pihak-pihak yang terlibat untuk saling mengerti posisi satu sama lain dan mencari jalan keluar bersama-sama.

 

Meski ingin pekerjaan berjalan lancar dan Anda bisa berteman dengan semua orang, konflik tak bisa dihindari. Namun ingat, sebenarnya konflik adalah adalah pengalaman yang mengajarkan tentang pentingnya sikap mental positif: kesopanan, pengendalian stres dan emosi, serta menumbuhkan empati dan toleransi. Memang, kemampuan mengelola konflik tak bisa Anda kuasai dalam semalam. Namun dengan terus belajar dari setiap konflik yang dihadapi, tak hanya karir Anda yang terbantu, Anda pun akan tumbuh sebagai pribadi yang lebih baik.

Artikel Lainnya

21 Februari 2018

Dos and Don'ts Bercanda di Kantor

Bercanda memang bisa membuat suasana jadi lebih santai. Tapi bagaimana jika ada yang ngambek saat diajak bergurau? Cari tahu batas-batas saat melontarkan lelucon di kantor, simak panduan umum berikut. 

Lebih Lanjut
30 Oktober 2017

Efektif Mengelola Feedback Negatif

Sebagai profesional, Anda tak mungkin lepas dari feedback. Bayangkan bekerja tanpa ada feedback, bisa jadi Anda malah kebingungan karena tak tahu apakah pekerjaan Anda memenuhi standar atau masih perlu diperbaiki. Namun bagaimana jika Anda merasa sudah optimal bekerja namun malah memeroleh feedback negatif?

Lebih Lanjut
08 Juli 2020

Persamaan Kita dan Benih Tumbuhan

Berapa lama kira-kira kita menghabiskan waktu di kantor? Rata-rata pasti 8 jam sehari akan kita habiskan untuk bekerj. Bayangin kalo lingkungan kantor kamu penuh tekanan, terus-terusan menuntut kamu untuk menghasilkan, tanpa memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri atau malah membatasimu untuk bereksplorasi.


Lebih Lanjut