Seminar Nasional Gizi untuk Bangsa Memerangi Stunting dan Malnutrisi di Indonesia

Berita

Sep 09, 2015

Seminar Nasional Gizi untuk Bangsa Memerangi Stunting dan Malnutrisi di Indonesia

Seminar Nasional Gizi untuk Bangsa Memerangi Stunting dan Malnutrisi di Indonesia

“Saat ini, tingkat anak-anak yang mengalami stunting sudah mencapai 40%, tetapi belum dapat ditangani dengan baik karena penanganannya yang juga tidak mudah. Industri menjadi bagian yang sangat berperan dalam memberantas stunting, malnutrisi dan lain sebagainya.” tutur ibu Ir Asih Setriani, MSc. selaku moderator seminar.

Seminar Nasional Gizi untuk Bangsa IV dengan judul “Menebar Ilmu Membangun Negeri” telah dilaksanakan pada tanggal 2 dan 3 September 2015. Seminar ini membahas tentang isu gizi terkini yang melingkupi stunting, ASI eksklusif, dan kemitraan gizi. Seminar yang diselengarakan oleh Program studi Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia ini memberikan topik yang berbeda disetiap panelnya.

Hari pertama, seminar ini menyajikan dua panel. Panel pertama membahas tentang “Stunting di Indonesia: Arah Kebijakan dan Program, Pencegahan Nasional”. Sedangkan panel kedua membahas tentang “Komitmen Kemitraan dalam Pembangunan Gizi”.

Seminar Nasional ini menghadirkan beberapa tokoh kesehatan dan industri di Indonesia, salah satunya adalah Menteri Kesehatan RI yang memberikan key note speech di awal seminar. Selain itu, seminar nasional ini juga turut mengundang Sri Megawati, Human Resources and Coorporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, sebagai pembicara pada panel dua yang membahas tentang “Gerakan Nusantara: Contoh Konkrit Kemitraan Industri dengan Pemerintah dan Perguruan Tinggi”.

Di awal presentasinya, Sri Megawati menuturkan bahwa sebagai perusahaan susu multinasional terbesar keempat di dunia, Frisian Flag Indonesia (FFI) memiliki strategi untuk mampu bersaing dan menjadi market leader. Dengan tema tahun ini yaitu “Up Together, melambung ke udara terbang tinggi bersama-sama”, FFI harus dapat bekerja dengan profesional dan harus mampu menarik konsumen, peternak dan calon pegawai.

Dijelaskan pula, untuk menjadi market leader, FFI memiliki tujuan khusus. Pertama, FFI harus mampu memberikan makanan bergizi pada manusia di dunia yang diperkirakan akan mencapai 8,5 milyar. Kedua, peternak sapi perah merupakan hal yang penting karena susu sapi segar berkualitas adalah bahan baku untuk seluruh produk FFI. Tetapi saat ini banyak peternak yang sudah memasuki usia tua, sedangkan golongan muda mengalami less interest pada kegiatan beternak sehingga FFI harus mampu menarik golongan muda agar mereka memiliki kemauan untuk menjadi peternak. Ketiga, sustainability yang menyangkut bahan baku dan packaging. “Selain itu, sustainability berkaitan dengan bagaimana menggunakan energi secara berkelanjutan untuk warisan anak-anak kita nantinya.” ujarnya. Beliau juga menambahkan, tujuan khusus yang pertama diimplementasikan pada program yang fokus terhadap edukasi dengan program “Gerakan Nusantara” karena jika suatu perusahaan hanya memberikan sample saja kepada anak-anak, maka hal tersebut belumlah cukup untuk mengurangi kasus stunting dan malnutrisi di Indonesia.

Maka dari itu, munculah Gerakan Nusantara (Minum Susu Tiap Hari untuk Anak Cerdas Aktif Indonesia). Menurut Ir. Ahmad Syafiq, MSc., PhD, perubahan yang paling ideal adalah perubahan yang berasal dari diri sendiri. Pernyataan tersebut sesuai dengan ungkapan Sri Megawati bahwa FFI telah menghadirkan program Gerakan Nusantara yang bertujuan untuk mengubah atau memperbaiki gaya hidup sehat anak-anak dengan memunculkan kesadaran diri untuk aktif di luar ruangan agar mendapat paparan sinar matahari.

“Kemitraan merupakan kunci dari pembangunan gizi. Dunia industri memiliki eksistensi kuat, seharusnya industri dijadikan sebagai mitra pemerintah untuk pembangunan gizi, bukan dijadikan sebagai saingan.” tutur Ahmad Syafiq dalam panel yang sama.

Gerakan Nusantara merupakan inisiasi dari hasil survei SEANUTS oleh Friesland Campina. Survei yang bertujuan untuk mengetahui status gizi anak dilakukan di Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Hasilnya, ditemukan bahwa banyak anak di daerah perkotaan yang mengalami malnutrisi, namun di sisi lain ada juga anak yang mengalami obesitas sejumlah 5%. Sedangkan di daerah rural, malnutrisi pada anak mencapai 40%, namun tidak ditemukan obesitas. Selain itu, lebih dari 40% anak Indonesia kekurang vitamin D, ironis Indonesia adalah negara dengan sinar matahari yang cukup. Ada kemungkinan, hal tersebut disebabkan karena anak-anak lebih senang bermain games teknologi di dalam rumah dibandingkan bermain di luar rumah.

Dengan hadirnya Gerakan Nusantara yang bertema “Green Move Be Strong”, FFI telah melakukan aksi nyata untuk mewujudkan pembangunan gizi, terutama untuk menurunkan angka stunting dan malnutrisi di Indonesia. Sebanyak 7200 anak Indonesia telah terlibat ke dalam program ini. Aksi nyata yang dilakukan oleh industri, seperti Gerakan Nusantara oleh FFI, diharapkan dapat menjadi upaya pembangunan gizi di Indonesia yang saat ini mengalami stagnasi.