Peternak Sapi Perah Indonesia Menimba Ilmu di Belanda

Berita

Jul 23, 2019

Peternak Sapi Perah Indonesia Menimba Ilmu di Belanda

Peternak Sapi Perah Indonesia Menimba Ilmu di Belanda

Empat orang peternak sapi perah pemenang Farmer2Farmer 2019, bersama Frisian Flag Indonesia, menimba ilmu ke negeri Belanda untuk mempelajari Good Dairy Farming Practice (GDFP) dari beberapa peternak sapi perah sukses di Belanda. 

 

Program berkelanjutan Farmer2Farmer (F2F), yang bernaung di bawah Dairy Development Program (DDP), telah menginjak tahun ketujuh dalam pelaksanaannya. Tahun ini, dari 110 peternak sapi perah yang menjadi peserta program F2F, empat orang peternak berhasil memenangkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan Good Dairy Farming Practice (GDFP) di Belanda – baik berupa keterampilan teknis maupun non teknis.

Selama dua minggu, para peternak, yang berasal dari empat koperasi sapi perah di Jawa Barat dan Jawa Timur, ini secara intens belajar mengenai cara mengimplemetasikan teknologi yang digunakan dan bekerja langsung bersama beberapa peternak sapi perah sukses di sana. Selain itu mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Dairy Campus di Leeuwarden dan CRV Breeding Center di Wirdum. Di dua tempat ini, para peternak diajak belajar mengenai teknologi peternakan sapi perah di Belanda, mulai dari pembibitan sapi perah unggul hingga memilih sapi berdasarkan tempat tinggal dan kondisi di berbagai belahan dunia.

“Selama mereka di Belanda, peternak Indonesia mendapatkan pengetahuan dan diajarkan mengenai keterampilan serta penerapan aspek teknis beternak yang harus dimiliki oleh seorang peternak. Standar penilaian keberhasilan usaha peternakan sapi perah menurut FAO terdiri dari beberapa aspek teknis, antara lain: aspek pembibitan dan reproduksi, pakan dan air minum, pengelolaan kandang dan peralatan, kesehatan dan kesejahteraan ternak, hingga manajemen keuangan,” jelas Tino Nurhadianto, Fresh Milk QC/QA Manager Frisian Flag Indonesia.

Jika selama ini para peternak sapi perah di Indonesia menjalankan peternakan mereka secara tradisional berbekal ilmu yang diberikan secara turun temurun, maka melalui program F2F ini para peternak diajarkan untuk menjalankan peternakan mereka sesuai standar yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Salah satu pemenang F2F, Yanto, mengakui bahwa setelah mengikuti program F2F, ia banyak mengubah pola dalam menjalankan usaha peternakan sapi perah.

“Selama ini saya menjalankan peternakan berdasarkan ilmu yang saya dapat secara turun temurun. Setelah mengikuti program F2F, saya belajar banyak tentang peternakan. Hal pertama yang saya akan lakukan ketika kembali ke Indonesia adalah membenahi pakan untuk sapi-sapi saya. Karena di Pasuruan sering kemarau, jadi saya tertarik untuk membuat fermentasi rumput atau silase, sehingga pangan untuk sapi-sapi saya tersedia sepanjang tahun,” ujar Yanto.

Senada dengan Yanto, Apidh, peternak sapi perah asal Lembang, Jawa Barat, mengatakan bahwa ia juga akan menerapkan teknik silase untuk memperbaiki pakan sapi-sapinya. “Manajemen pakan ternyata sangat penting dalam mengelola peternakan sapi perah. Ternyata 80% permasalahan peternakan ada di manajemen pakan. Untuk itu saya akan mengaplikasikan pengetahuan ini setibanya di Indonesia, karena dengan adanya silase ini ketersediaan pakan untuk ternak bisa terjamin sepanjang tahun. Dengan begitu, peternak bisa menghemat waktu dan biaya produksi pun bisa ditekan,” jelas Apidh. 

Tak hanya itu, banyak sekali ilmu dan teknik baru yang bisa langsung diterapkan oleh para peternak sapi perah setelah mengikuti program F2F ini. Frisian Flag Indonesia berharap mereka tidak hanya bisa menerapkan ilmu baru tersebut pada peternakannya sendiri, namun juga membagikan pengetahuannya kepada peternak sapi perah lainnya. Dengan begitu, akan semakin banyak peternak sapi perah yang diberdayakan dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik – sesuai tujuan utama dari program F2F ini.